Mahalnya Pencarian Sebuah Fakta

Fakta di Indonesia itu layaknya tulisan pensil di atas kertas putih. Asalkan memiliki penghapus karet dan pensil lainnya, seseorang sudah bisa mengubah jalan fakta itu sendiri…

***

Tak terasa, dunia sekarang sudah memasuki bulan oktober 2011, waktu seakan berjalan dengan cepat dan luar biasa. Tentunya, tidak ada salahnya jika saya sedikit mengenang kejadian pada bulan september kemarin. Karena kita harus selalu ingat akan masa lalu kita. Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kalau kata Bung Karno. Dengan mengingat sejarah, maka awareness kita akan lebih terjaga. Dan orang yang memiliki kesdaran yang tinggi, akan lebih mudah mensyukuri hidupnya.

Langsung saja, mari kita bercerita tentang hal-hal yang saya alami pada buan september lalu. Dan ternyata, saat menyebut kata bulan lalu, maka yang paling terngiang di telinga saya adalah pengalaman saya meliput untuk Swara Kampus. Sebuah rubrik mingguan KR yang merupakan sebuah wadah apresiasi bagi mahasiswa Yogyakarta untuk berkarya di surat kabar nomor satu di Yogyakarta itu.

Pada kesempatan saya meliput itu, saya tidak akan melupakan salah satu proses terindah yang terlewati, yaitu proses pencarian fakta. Ya, proses pencarian fakta yang melelahkan, menantang, sekaligus menghibur, telah saya dapatkan selama menjadi punggawa Swaka. Dari situ saya sadar, akan pentingnya sebuah pencarian besar yang bernama fakta itu.
Fakta itu adalah sesuatu yang nyata, walaupun seringkali tidak dapat kita sentuh. Fakta itu adalah sesuatu yang nyata, walaupun seringkali tidak dapat kita buktikan kebenarannya. Fakta itu adalah sebuah kebenaran hakiki, yang harus ditelusuri untuk dapat ditemukan. Ya, fakta adalah harta karun bagi seorang wartawan.

Perjuangan saya di swara kampus bukanlah main-main. Karena itu, saya harus mencoba menyelami hakikat pencaran fakta yang sebenarnya. Pencarian untuk menemukan pencarian. Mempersiapkan diri, untuk bersiap bertempur…

***

Saat sedang asik berselancar di Kaskus.us , tanpa sengaja saya melihat sebuah thread yang menarik. Thread itu bercerita mengenai pengusiran dua orang audience di dalam taping acara Kick Andy yang ternyata cukup kontroversial. Di kasus itu diceritakan mengenai penuturan seorang audience “terusir” yang mengeluarkan uneg-unegnya dalam blog pribadi. Intinya, dia merasa Andy F. Noya melakukan beberapa kesalahan yang membuatnya tidak nyaman berada di studio itu. Seperti cara wawancara Andy yang sering memakai komedia nakal untuk menghibur penonton. Padahal waktu itu bintang tamu yang dihadirkan adalah seorang anak remaja yang sudah jadi pelac*r sejak kecil. Juga perlakuakn Andy terhadap narasumber ahli yang dianggapnya terlalu sedikit. Di lain pihak, Andy juga memberikan jawaban terkait isi tulisan itu. Pokoknya seru deh. Selengkapnya silahkan lihat sendiri di forum nomor satu Indonesia ini.

Saya tidak ingin membicarakan perihal perselisihan itu di sini. Saya tidak ingin terlalu ikut campur urusan orang lain yang jelas-jelas kapasitasnya di luar saya. Saya justru lebih tertarik pada cara Andy F Noya dalam mencari fakta itu sendiri.

Seperti telah saya ceritakan di atas tadi, seorang audience yang merasa tidak puas dengan cara Andy beraksi , mengatakan bahwa Andy melakukan komedi nakal dengan menggoda si bintang tamu seolah-olah sang bintang tamu tidak bersalah sedikitpun. Kemudian, dalam situs resmi Kick Andy, Andy mengatakan bahwa itu adalah sebuah cara untuk membuat sang bintang tamu nyaman dan tidak merasa dihakimi di depan televisi. Alasan itu masuk akal.

Jika kita lihat background Andy selama ini, maka kita akan melihat bagaimana dia dengan lihai dapat membuat orang menjawab pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk diberikan. Entah kenapa, dengan sebuah metode yang dimilikinya, banyak orang yang mau menjawab pertanyaan ‘tabu’ itu. Tentunya, itu bukan kemampuan sembarangan.

Namun ternyata, proses pencarian fakta tidak sesimpel itu.

Di kala dia telah berada pada jalur yang tepat, masih ada orang-orang yang tidak suka dengan caranya mencari kebenaran, yang kadangkala orang lain tidak bisa. Tentunya, saya tidak bisa 100% menyalahkan orang-orang yang tidak suka itu. Karena pada dasarnya, setiap orang memiliki pandangan mereka sendiri. Apalagi jika melihat background si audience yang merupakan aktivis mulia terhadap hal-hal semacam itu. Tentunya, emosi seseorang akan lebih mudah terbakar jika sesuatu yang dianggap prinsipil dirusak oleh orang lain. Itu wajar. Jadi, jika ada yang tidak suka dengan cara Andy mencarai fakta, saya tidak akan mendiskreditkan mereka. Karena pada dasarnya, itu semua adalah bagian dari proses pencarian fakta itu sendiri. Jika pencarian fakta bisa dirumuskan selayaknya mencari luas halaman tetangga sebelah, maka proses pencarian fakta tidak akan menarik lagi.

***

Di lingkup internasional, dunia terus dikejutkan oleh gerak hebat Wikileak. Si kaawat kecil yang bisa membuat CIA dan intelijen negara lainnya kalang kabut. Dengan sebuah metode yang ampuh, kawat ini bisa ‘mencuri’ fakta yang ada di berbagai negara, terutama Amerika. Walaupun sang founder sudah di’amankan’, yaitu William Assagne (bener ga ya tulisannya?), namun tetap saja situs itu terus beraksi. Bahkan, Indonesia tidak luput dari pengamatannya.

Wikileak adalah sebuah contoh konkrit bagaimana sulitnya kita mendapatkan fakta yang hakiki di dalam kehidupan ini. Dengan adanya cerita-cerita yang dibocorkan oleh Wikileak ini, semakin menunjukan bahwa Fakta dewasa ini telah terdistorsi dengan hebatnya.

Fakta di dunia maya layaknya tabula rasa, yang bisa diisi dengan apapun juga.

***

Lagi, kita mendengar kisah tragis pemukulan wartawan. Kali ini, bahkan wartawan harus dihajar oleh anak sekolah. Miris!

Cerita ini sekaligus menggambarkan bahwa banyak orang yang tidak mau menerima kenyataan dirinya yang dipotret oleh media. Buruk rupa cermin dibelah, kalau kata orang bijak Indonesia. Tidak terima dengan pemberitaan media, maka wartawannya saja yang dihabisi.

Sayangnya, kadangkala wartawan juga yang bertindak kelewatan. Mungkin karena merasa memiliki power untuk memblowup sebuah misteri, maka wartawan sering bertingkah layaknya sang raja. Apa sedikit yang tidak sesuai dengan kehendaknya kemudian ditulis dengan nada negatif terhadap hal itu.

Tentunya, saya tidak menyerang pada setiap wartawan yang ada di Indonesia, “hanya kebanyakan begitu,” kata dosen saya. Dan, yang kebanyakan itulah yang menjadi representasi wajah wartawan kini.

Proses mencari fakta itu sulit, menjadi pencari fakta, lebih sulit lagi…

***

Akhirnya, pada awal oktober, saya berhasil menyelesaikan tugas saya di Swara Kampus. Saya telah cukup berhasil mengumpulkan fakta untuk mencari hakikat dari kebenaran itu sendiri. Walaupun, masih banyak kekurangan dari fakta yang saya temukan.

Dari tugas ini kemudian saya sadar, bahwa tidak ada satu fakta yang berdiri sendiri. Setiap fakta, akan membentuk fakta lain, saling berkaitan satu sama lain. Dan dari kumpulan fakta-fakta itulah, kita akan menemukan yang bernama alam semesta. Universe. Terbentuk dari kumpulan bebagai fakta yang saling menguatkan, saling bekerja sama dalam kebaikan.

***

Hal yang paling membosankan dari pencarian sebuah fakta adalah saat engkau menemukan fakta yang dapat menjawab semua pertanyaanmu dan tidak menyisakan pertanyaan lain lagi. Namun percayalah, engkau tidak akan mencapai titik itu. Belum…
Hingga engkau menemui kematian.

Solo, 13 oktober 2011

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s