Uang, Uang, dan Uang

Beberapa hari terakhir, saat melihat berita tentang ekonomi di surat kabar, saya sering membaca berita yang tidak mengenakkan, yaitu akan adanya krisis ekonomi jilid dua. Krisis ekonomi ini sedikit berbeda dengan tahun 2008 lalu, di mana yang terancam bangkrut adalah beberapa perusahaan swasta. Tahun ini, yang terancam bangkrut adalah beberapa negara! Salah satu yang paling memprihatinkan kondisinya adalah Yunani. Saya memang tidak begitu paham soal ekonomi makro dan berbagai aktifitasnya, seperti saham, obligasi, dan lain-lain. Namun, sediktinya saya paham, bahwa sistem ekonomi yang ada sekarang sudah tidak lagi ideal.

Padahal, secara teori, sekolah-sekolah manajemen dan finance di Amerika dan Eropa adalah yang terbaik di dunia, bahkan mungkin alam semesta kalau boleh lebay sedikit. Tapi kenapa kemudian kesulitan ekonomi seperti sekarang tidak kunjung dapat dicari pemecahannya? Yah, saya bisa membayangkan para profesor di sana menyalahkan pemerintahnya yang mereka anggap tidak becus, tapi kemudian saat disuruh memberi solusi, para profesor itu hanya diam. Atau kalaupun memberikan solusi, solusi yang diberikan hanyalah sebatas teori. Tapi, tentu saja ini hanyalah perkiraan saya saja. Saya tidak mengenal mereka dan tidak tahu bagaimana keseharian mereka, saya Cuma membayangkan mereka bertindak layaknya orang Indonesia, hehe.

Kemudian, jika para ahli ekonomi, pakar keuangan, pelaku bisnis yang cerdas-cerdas saja tidak mampu menjalankan sebuah tatanan pasar yang ideal, bagaimana dengan orang yang tidak tahu apa-apa seperti saya ini? Hmm, saya rasa sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Sistem ekonomi, dengan persaingannya memang bukan sesuatu yang simpel dan ringan untuk dijelaskan. Ada ribuan faktor yang mempengaruhinya.

Itulah, meskipun sudah diciptakan ilmunya, dibuatkan sistemnya, dan coba diatur dengan sebaik mungkin, uang tetaplah menjadi hal yang besar. Uang tetap bisa mengelak dari perlakuan semena-mena manusia dan melakukan pemberontakan. Ya, sekarang ini kita sedang menyaksikan babak baru dari penguasa dunia –uang- yang kini tengah melakukan pemberontakan. Saksikanlah, pemberontakan uang di dunia!

Uang bukanlah segalanya, namun segalanya membutuhkan uang!

***

Saya mempunyai seorang emmm, katakanlah sahabat. Dia juga memiliki seorang sahabat yang sangat kental. Setiap hari nongkrong bersama, curhat bersama, memadu kasih, ups, yang itu tidak termasuk, kita bukan maho, hehe…
Namun percayakah anda jika kemudian persahabatan itu menjadi hilang tatkala utang tidak kunjung dibayar? Itulah yang terjadi pada dua sahabat saya tadi. Entah kenapa, uang menjadi semacam legalitas untuk menghilangkan rasa ‘sayang’ terhadap sesama makhluk. Uang telah menjadi bagian dari kehidupan setiap manusia, dan kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk melawannya.

Perasaan manusia yang konon katanya tidak bisa dibeli oleh uang, pada hakikatnya juga membutuhkan uang. Perasaan manusia yang konon katanya tidak bisa dibeli oeh uang, pada hakikatnya juga meminta uang itu sendiri. Perasaan tulus untuk saling menyayangi dalam persahabtan itu hilang dalam besarnya utang yang tidak dibayar.

Ada sebuah kicauan twitter yang cukup menarik bagi saya beberapa waktu lalu, “jangan sampai harga dirimu hilang karena utang yang belum dibayar” Wow! Utang adalah harga diri, dan harga diri kita lambat laun sudah mulai diidentikkan dengan ‘harga’ dalam bentuk uang.

Bukankah dulu manusia sering berkata, “Harga diri kita tidak akan bisa dibeli dengan uang!”?

***

Chelsea dan Manchester City, sebelum dibeli oleh pengusaha timur yang kaya raya, bukanlah sesuatu di liga Inggris. Mereka hanya dapat bertahan di bagian papan tengah liga saja yang tentunya sama sekali tidak spesial. Namun uang dari pemilik baru mereka merubah segalanya.

Saat membeli Chelsea, taipan minyak asal Rusia, Roman Abrahamovich, langsung beraksi. Jutaan poundsterling diturunkan demi meraih gelar juara yang diidam-idamkan. Hingga kemudian, gelar Liga Inggris dua kali berturut-turut bersama Mourinho pun diraih, lalu disambung lagi oleh Ancelotti beberapa tahun kemudian.

Kedatangan bintang-bintang dengan harga selangit juga mempengaruhi hal ini. Sebut saja Dider Drogba, Nicolas Anelka, William Gallas, Petr Cech, Andriy Sevchenko, Makalele, Malouda, dan yang paling gres, Torres dan Matta, menjadi bukti kesahihan sang penguasa minyak.

Dilain pihak, Manchester City yang dulu hanya menjadi tim papan tengah kini sudah mulai menunjukan kelasnya sebagai calon juara baru Liga Inggris. Kedatangan bintang-bintang kelas dunia yang ada menunjukan keseriusan sang pemilik untuk membuat City jadi juara. Teves, Kun Aguerro, dan sederet nama beken lainnya menjadi jaminan kualitas tim ini. Apalagi, pelatih kepala yang ada di kursi sekarang adalah seorang Roberto Mancini. Dia adalah pelatih pertama yang berhasil membuat Inter membuang sial selama 14 tahun tidak pernah Scudetto. Dialah orang yang memecah kesialan itu. Sekarang, mampukah dia menghapus rekor tidak pernah juara City? Well, kita tunggu saja.

Di belahan dunia yang lain, Real Madrid yang pontang-panting mengejar permainan indah Barcelona terus memakai jalan pintas untuk memudahkannya. Pembelian pemain bintang, itulah jalan pintas yang mereka pilih. Pembelian dua mega bintang, Kaka dan Ronaldo, serta sederet nama mahal lainnya tentu menjadi bukti, Real menggunakan uang dan kekuasaan untuk mengejar Barcelona, sang raja dunia sepakbola saat ini. Dan hasilnya tidak bisa dibilang mengecewakan, dengan uang yang dimiliki Madrid itu, setidaknya telah membuat mereka tidak selalu tertunduk malu di hadapan sang raja. Saya yakin, jika tanpa kucuran dana dari sang presiden, Madrid tidak akan pernah bisa berada di dunia yang sama dengan Barcelona.

Uang memang tidak menjamin sebuah tim sepakbola akan juara, namun uang menjamin, setiap pemiliknya untuk menjadi lebih baik dari yang tidak punya uang.

***

Aku mencintaimu, kata saya pada si cantik beberapa waktu yang lalu. Kemudian saya tidak sadar, apakah dia bilang ‘aku mencintaimu juga’ ataukah tidak, karena saya langsung berpaling. Tapi saya yakin, dia pasti mengatakan itu. Karena saya, maksud saya kami, sedang dilanda jatuh cinta.

Saya yakin, tidak hanya saya, banyak manusia di belahan dunia yang lain juga merasakan hal yang sama. Merasakan keinginan untuk mencintai dan dicintai. Dan tidak sedikit dari mereka yang kemudan merasakan jatuh cinta yang kuat itu. Cinta itu murni, tidak boleh ternoda sesuatu apapun. Tidak nafsu, tidak pula kebencian karena ingn balas dendam, atau dalam bahasa gaulnya adlaah pelarian. Tidak! Sekali lagi saya katakan, cinta itu murni!

Akan tetapi, seberapa murni cinta itu? Tersentuhkah dia dengan sang penguasa dunia yang lainnya, yaitu Uang? Apakah cinta melawan uang, ataukah cinta bersatu dengan uang?

Untuk menjawab pertanyaan bodoh itu, marilah kita menjawab pertanyaan yang lebih bodoh ini. Apa yang pertama kali kita pikirkan dalam memutuskan sebuah pernikahan? Mungkin, kebanyakan orang akan menjawab : sudah mapankah si calon suami? Yap, dan semuanya kembali lagi pada uang.

Saya memiliki seorang kenalan, dia adalah seorang laki-laki yang sudah berkeluarga, memiliki anak, dan pintar. Sayangnya, walapun dia cukup pintar, dia tidak cukup pandai untuk mendapatkan uang. Ya, dia tidak pandai mendapatkan uang. Si istrinya, yang cukup sabar, merasa bisa bertahan dengan itu. Si istri tetap berusaha mencintainya meskipun si suami tidak memiliki penghasilan. Rumah tangga itu terus berjalan selama beberapa tahun.

Namun, dalam kelanjutan ceritanya, si istri akhirnya sampai pada titik tersabarnya. Semakin lama, dia semakin merasa tidak sanggup untuk menjalani kehidupan seperti itu. Perasaan cintanya yang kuat, makin lama makin terkikis oleh kebutuhan hidup yang semakin mencekik. Hingga akhirnya, mereka pisah rumah. Si Istri sudah tidak sanggup lagi untuk memaklumi kebodohan suaminya. Uang, telah menjadi faktor mereka berpisah.

Di sisi lain, saya juga mengenal kondisi keluarga yang sama dengan di atas. Namun ada sedikit yang berbeda, anak dari pasangan itu, sangat pintar (juga cantik dan menawan) sehingga dia mendapatkan beasiswa yang cukup untuk menghidupi dirinya dan mungkin juga keluarganya. Hasilnya, rumah tangga itu tetap rukun. Ya, karena uang, rumah tangga ini bertahan, seperti kehidupan yang dapat terus berlanjut dengan adanya uang.

Saat saya sudah dalam perjalanan pulang, tiba-tiba hape saya berbunyi, rupanya ada SMS. Dari si Cantik. Saya baca, “Aku juga cinta kamu, tadi kamu gag denger sih aku ngomong, yaudah ku SMS aja, gag papalah mahal dikit, hehe…”

Ya, cinta memang bukanlah uang. Cinta tidak bisa dibeli. Cinta tidak bisa didapatkan dengan berapapun uang yang ada. Namun cinta membutuhkan uang…

***

Agama Islam itu agama langit, agama yang diridhoi oleh Allah, Agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Tidak pernah sedikitpun dalam Al-Qur’an diajarkan untuk menjadi teroris dan berbuat kejahatan. Tidak pernah! Namun, Islam juga bukan berarti menjadi Sufi dan melupakan segala hal-hal ayng bersifat duniawi.

Banyak dari kita yang merasa, apabila bisa meninggalkan dunia secara utuh, maka kita akan semakin mulia di mata Allah. Mungkin salah satu alasannya adalah karena di dunia ini, yang ada hanyalah kefaanaan dan kepalsuan belaka. Apalagi saat mendengar dalil bahwa dunia adalah surganya orang kafir dan nerakanya orang mukmin. Apalagi Nabi besar kita yang tercinta, Nabi Muhammad SAW, serta para sahabatnya juga sangat benci dengan yang namanya dunia. Tentunya kita tergoda bukan untuk menjadi seorang sufi yang meninggalkan dunia dalam kehidupan masih hidup?

Hmm, lalu bagaimana dengan kewajiban kita sebagai manusia, manusia yang menjadi khalifah di muka bumi? Akankah kita tinggalkan begitu saja? Dan kita biarkan dunia ini jatuh ke tangan-tangan orang kafir yang tidak bertanggung jawab? Hmm, quite difficult ha?

Agama Islam tidak mengajarkan kita hanya dalam akhirat saja, melainkan juga dalam dunia. Istilahnya, ibadah dan mua’amalah. Jika ibadah adalah tentang akhirat, maka muamalah adalah tentang dunia. Ilmu tentang berdagang, mebagi warisan, memberi upah pada pekerja, bagi hasil, semuanya ada pada agama islam. Jadi, apakah kita akan membiarkan ajaran itu “mangkrak”? Tentu tidak, ajaran itu adalah ajaran dari langit, diciptakan dengan perhitungan Tuhan. Perhitungan yang jauh lebih besar daripada otak seluruh manusia yang ada di dunia ini. Jadi, bagaimana mungkin ajaran itu bisa “mangkrak”? Tidak mungkin!

Bagaimanapun juga, kita memerlukan dunia untuk berdakwah. Jika kita tidak memiliki tubuh yang cukup kuat, jalan jihad apa yang bisa kita lakukan? Tentu dengan menyumbangkan sebagian harta kita, atau dalam bahasa lain, uang kita kepada yang mmebutuhkan. Bukan uang yang disumbangkan untuk menghidupi teroris, bukan itu! Tapi lebih kepada jalan yang benar.

Kita lihat pada Abu bakar, dia adalah saudagar kaya yang menggunakan hartanya untuk menebus para budak yang disiksa karena masuk Islam. Kita lihat Usman, sang orang kaya pemalu yang bahkan menyumbangkan sebuah sumur demi kehidupan orang mukmin disekitarnya. Betapa mulia mereka mereka dengan hartanya!

Jadi, walaupun uang adalah penguasa dunia saat ini, namun jika dia dikuasai oleh orang yang benar, seperti Abu Bakar dan Umar, maka niscaya, uang tidak akan menyengsarakan manusia seperti sekarang ini. Uang tidak akan tumbuh menjadi monster yang terus mengintai setiap manusia yang lemah untuk segera dimakan ke dalam lembah hutang. Mengerikan memang, tapi itulah uang.

Gunakan uang dalam jalan agama yang diridhoiNya, maka uang kita akan selamat dari api neraka.

Uang bukanlah segalanya, namun semuanya membutuhkan uang. Dan yang lebih penting lagi, Uang membutuhkan moral agama untuk melindunginya dari kemudharatan.

1 Komentar

Filed under Freedom to speak

One response to “Uang, Uang, dan Uang

  1. “Uang bukanlah segalanya, namun semuanya membutuhkan uang”

    Setujuuu,,😀

    BY. ALL ABOUT MEN’S
    http://allaboutmens.wordpress.com/
    Follow juga @allaboutmens1

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s