KKN day 26 : Kota Pinggiran

Daun-daun berguguran di tanah, jambu-jambu mulai berubah warna, dan batang semakin tumbuh, tak terasa waktu telah berjalan dengan cepat dan sekarang saya ada di hari ke 26 di Mantren. Artinya, dalam kurun waktu yang singkat, sebentar lagi kita akan memasuki babak baru di Mantren, yaitu : Romadhon.
Namun, sebelum membahas Romadhon yang memang pada kenyataannya masih beberapa hari lagi, marilah kita membicarakan hal yang lain terlebih dahulu. Salah satu yang ingin saya share kan adalah terkait dengan ekegiatan saya pada hari ke 26 ini. Hari di mana Bumi Mantren terlihat seperti kampung halaman saya seendiri.
Pada hari ini, saya melewati pergantian hari dengan keadaan terjaga di dalam Bis. Yup, saya baru saja pulang ke Jogja dan kemudian menuju ke Mantren kembali. Namun karena keadaannya cukup genting, yaitu saya sangat megantuk, maka akhirnya saya harus mengaku kalah pada rasa kantuk itu. Saya beberapa kali tertidur di bis. Puncaknya, saya kelewatan dari tempat turun yang seharusnya! Saya keblabasan sampai Maospati dan jalan raya arah Madiun yang jaraknya ke rumah pondokan sekitar 4 kiloan! Karena hari sudah sangat malam, maka saya tidak punya pilihan lain, yaitu jalan kaki menuju pondokan. Meskipun sebenarnya harus diakui bahwa perjalanan itu cukup melelahkan, namun saya berhasil sampai di rumah pondokan dengan selamat.
Bagitu sampai di rumah, saya langsung tidur dengan bersemangat. Setiap sendi dan saraf tubuh yang pegal langsung terasa dengan jelas. Saya bisa merasakan suara ‘krek-krek’ berkali-kali keluar dari tubuh saya. Benar-benar nikmat.
Paginya, saya bersama teman-teman yang lain langsung bergegas untuk kerja bakti membersihkan pondokan. Maklum, sudah banyak sekali sarang laba-laba, kotoran cicak, sampai upil kita yang tersebar di Pondokan. Mungkin, sudah lebih dari satu seminggu pondokan kita tidak terjamah sebuah niat untuk membersihkan yang tulus. Akibatnya, ya seperti itulah, kondisi pondokan kita sangat memprihatinkan.
Pukul 9 baru pondokan kita bisa bersih dan rapi, serta wangi kalau boleh dibilang. Namun harapan kita untuk membuat pondokan menjadi lebih nyaman ini memiliki konsekuensi yang cukup besar, kita terlambat makan! Untungnya, teman-teman cukup pengertian dan tidak mengkambing hitamkan kita atas kelalaian kita yang terlambat makan. Oke, mungkin masalah ini terlihat sepele, namun perlu dicatat, dalam KKN tidak ada yang namanya sepele. Semua bisa menjadi masalah besar jika tidak segera ditanggulangi atau diantisipasi. Karena itulah, kita harus selalu siaga.
Setelah makan, kita berperilaku layaknya orang biasa hidup. Ngobrol-ngobrol di rumah, persiapan sholat Jum’at, sambil ngemil beberapa snack yang memang sudah tersedia. Kegiatan kami bisa dibilang cukup membosankan. Bahkan, sampai malam menjelang dan matahari merunduk takut pada Tuhan, kita tidak melakukan hal-hal yang menegangkan dan menyenangkan!
Untungnya, malam hari ke 26 ini diakhiri dengan cukup indah. Saya dan teman-teman pondokan Utara, diajak oleh Mas Dona, sang ketua karang taruna Mantren untuk jalan-jalan ke Madiun! WUU, hal ini benar-benar menggairahkan bagi jiwa petualang yang tersimpan di dalam masing-masing diri kami.
Kami langsung melesat menuju Madiun. Dengan tiga buah motor standar yang tidak terlalu spesial, kita menembus malam dengan percaya diri. Tak gentar menerjang angin malam yang konon senang sekali membuat orang sakit. Pemandangan kota Madiun pun menyambut kita dengan hangat dan bersahabat. Lampu-lampu indah yang bernafaskan islam berpancaran di jalanan kota Madiun, membuat kita semakin tersadar, bahwa Romadhon sudah semakin dekat. Dan begitu sampai di alun-alun, saya berteriak dalam hati, “Aku sudah benar-benar menjejakkan kaki di Madiun!” Kampungan memang, namun bagi saya hal ini sangat baru dan berbeda. Karena itulah, saya benar-benar bersemangat berdiri di tanah Madiun.
Dari alun-alun kita berenam langsung bertolak menuju emperan toko yang memiliki warung nasi dan mie goreng. Salah satu menu yang terkenal di situ adalah, Madiunan! Hemm, sebenarnya bukan itu sih nama aslinya, itu Cuma plesetan saja dari kata Magelangan, nasi goreng campur mie yang terkenal di Yogya. Namun karena pedagangnya kocak dan tidak mau kalah sama Magelang, maka namanya menjadi Madiunan, haha!
Setelah selesai makan, kita langsung berjalan-jalan di kota Madiun. Kita melihat pemandangan kota madiun di malam hari, di saat penduduk asli kota ini terlelap, kita jelajahi tempat ini.
Secara keseluruhan, kota Madiun bagi saya cukup mirip dengan Solo. Kota dengan jalan yang rapi, tata kota yang lumayan teratur, serta langit yang hitam di malam hari, hoho. Sedikit banyak, berjalan-jalan di Madiun membuat saya menjadi kangen dengan kota kelahiran saya, Solo.
Ya, kenangan-kenangan di Solo itu muncul kembali. Kenangan saat saya muter-muter bertiga dengan kawan di jalan Solo mencari spot yang menarik untuk dikunjungi. Kenangan saat saya dan kawan-kawan nongkrong di Pinggiran kota Solo yang eksotis. Kenagan saat kita menghabiskan malam di angkringan kota Solo yang benar-benar indah, nikmat, dan murah. Ahh, Solo, apa kabarmu saat ini?
Akhirnya setelah puas bermain di Madiun, saya dan kawan-kawan kembali ke Magetan. Saya membawa sebuah oleh-oleh yang tak terkira, pengalaman. Dan pengalaman itu selalu mahal. Suatu saat, saya akan kembali ke Madiun, tunggulah saya kota yang terpinggirkan!

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s