KKN day 25 : Mencoba Menyambung Asa

Huft, maksud hati memeluk gunung, apadaya tangan tak sampai. Mungkin itulah peribahasa yang saat ini cukup tepat menggambarkan kondisi saya. Pada awalnya, saya sangat ingin untuk membuat semacam buku harian selama saya KKN di Mantren ini setiap harinya. Namun, ternyata saya belum sanggup untuk merealisasikannya. Awalnya memang berjalan mulus, namun seiring berjalannya waktu, keistiqomahan saya ternyata belum cukup kuat untuk melanjutkannya.
Namun seperti kata orang bijak, yang penting bukan bagaimana kamu terjatuh, namun bagaimana kamu dapat bangkit dari keterpurukan itu. Karena itulah, sekarang saya mencoba untuk sebisa saya menyambung catatan yang sempat terputus itu. Mencoba melanjutkan jalinan kemesraan antara saya dan catatan saya, semampu saya. Dan akhirnya, di sinilah saya mencoba kembali menulis kegiatan saya di KKN Mantren yang telah memasuki hari ke 25, hampir setengah perjalanan.
Pada hari ke 25 ini, karena sudah puluhan hari yang terlewat dari tulisan saya, maka tentunya saya memiliki banyak kisah untuk diceritakan. Saya tidak mau hanya menceritakan kisah saya pada hari ke 25 saja, karena pada kenyataannya, ada banyak hari yang jauh lebih menarik dari hari ke 25.
Salah satu hari yang cukup menarik untuk dikisahkan adalah pada tanggal 25 Juli 2011 kemarin, lebih tepatnya hari senin. Di hari itu, saya dan beberapa kolega menyempatkan diri untuk menyambangi SMA PGRI Maospati. Tujuan kami adalah untuk mengadakan kegiatan donor darah di sekolah yang merupakan hasil kerja sama dengan PMI cabang Magetan.
Ternyata, selain mendapat kesempatan untuk donor darah, kita di sana juga mendapat hiburan lain, yaitu melihat adik-adik SMA cewek yang masih kinyis-kinyis, haha! Walaupun tidak secantik si cantik, namun cukuplah buat sedikit cuci mata. Aduh, kok saya jadi mesum gini? Enggak kok, bercanda, saya hanya sedikit mengagumi keindahan ciptaan Allah, setelah itu, saya tidak melihat ke arah mereka lagi, hehe.
Indonesia memang memiliki jam yang unik. Jam itu sering disebut dengan jam karet. Tentunya, jam karet yang dimaksud di sini bukanlah jam yang terbuat dari karet, itu salah besar. Jam karet adalah kebiasaan orang Indonesia untuk menunda-nunda waktu dan biasanya mlor dari waktu yang dijanjikan. Sebuah keunikan yang tidak pantas kita banggakan. Dan sayangnya, hal ini justru terjadi pada PMI cabang Magetan yang datang tidak tepat waktu. Dari waktu yang dijanjikan yaitu jam 8 teng, mereka akhirnya baru sampai di Sekolah pada pukul 9. Namun, saya tidak ingin bersu’uzhon, mungkin mereka memang sedang mengalami hal yang mengharuskan untuk terlambat. Saya yakin, teman-teman dari PMI adalah orang-orang profesional yang menjunjung tinggi rasa cinta terhadap pekerjaan.
Setelah PMI sampai di tempat, kita langsung melakukan donor darah. Para anak SMA digiring masuk ke dalam ruangan untuk dijadwalkan mendonorkan darahnya. Banyak manusia unik yang ikut donor darah itu. Sebut saja mas gendut yang benar-benar gendut. Saya sempat berpikir, bahwa seharusnya tidak masalah jika dia diambil darahnya 3 bungkus sekaligus. Namun saya buru-buru menghilangkan pikiran itu, orang PMI yang sudah sering bermain darah pasti lebih paham dari saya yang Cuma tahu warna darah ini.
Siswa berdatangan dengan ramai dan antusias. Suasana hiruk pikuk tidak terhindarkan lagi di dalam runagan. Ada cewek-cewek yang ngegosip, ada juga cowok-cowok yang bermain bola di luar lapangan, bahkan, ada yang pacaran juga! Benar-benar dunia SMA, masa yang paling indah!
Setelah semua siswa selesai donor darah. Tibalah saatnya bagi saya dan teman-teman saya. Saya cukup antusias dalam acara donor darah ini, pasalnya, saya baru saja naik 5 kilo selama berada di Mantren ini. Hmm, KKN benar-benar merupakan program penggemukan bagi saya, haha! Karena itulah, saya sangat bersemangat dalam acara donor darah ini. Saya akan mendonorkan darah saya yang berharga untuk sebuah kehidupan yang juga berharga. Insya Allah.
Proses pendonoran tidaklah terlalu spesial. Semua berjalan dengan normal dan menyenangkan. Hanya dalam waktu 5 menit, darah yang diambil sudah satu kantong. Relatif cepat untuk ukuran donor darah. Namun, saya merasa darah saya menjadi lebih segar dari proses yang singkat itu. Seperti kata teman saya, darah itu seperti oli, harus diganti jika sudah tiba waktunya. Cara untuk mengganti darah? Ya jelas dengan mendonorkan darah. Jadi, sudahkah anda mendonorkan darah anda yang berharga? Jika belum, mengapa anda tidak segera berusaha mengecek kelayakan anda untuk mendonor, dan jika anda memang layak, bukankah lebih baik anda segera mendonor?

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s