KKN Day 7 : Mantren Dalam Putaran Pekan

Matahari masih bersinar dengan gagah di langit. Bumi terus bergerak dalam orbitnya, berguling dalam sumbunya, terus berpusat pada indahnya cahaya sang surya. Awan terus berarak, angin terus berhembus, cahaya datang dan pergi, menimbulkan malam hari yang sepi akan cahaya namun penuh ketenangan, kemudian menjadikan siang hari yang penuh dengan limpahan cahayaNya. Tak terasa, sudah 7 hari saya dan teman-teman berada di Mantren.
Selama 7 hari itupun, sudah banyak hal yang terjadi pada kita dan Mantren. Cara hidup kita sudah mulai memasuki dataran yang stabil di pondokan. Masing-masing dari kita sudah mulai terbiasa dengan cara hidup di pondok, dengan cara hidup teman-teman kita. Kita juga sudah menjalankan beberapa program yang dulu terkesan mustahil, seperti TPA, bimbel, dan beberapa program besar lainnya.
Di hari keenam ini, saya dan teman-teman di sub unit utara akan melakukan salah satu tugas besar, yaitu melakukan simulasi pembuatan pupuk kompos. Program ini besar, karena kita belum pernah sama sekali mencoba untuk membuat pupuk kompos. Kegiatan ini besar, karena kita akan memulai sesuatu yang belum pernah kita coba sendiri sebelumnya. Kegiatan ini besar, karena kelangsungan salah satu program pokok kita, dipertaruhkan dalam kegiatan ini. Ya, kegiatan ini adalah sebuah langkah awal kita untuk mencapai kemenangan. Kegiatan ini besar.
Karena kita menggunakan konsep miniplant, maka kita diharuskan untuk membuat lubang dahulu sebagai tempat penyimpanan sampah. Lubang itu menjadi tempat proses degradasi sampah organik yang sudah kita campur dengan EM4, sebuah bakteri yang menjadi dekomposter sampah itu. Lubang itu, adalah sebuah tempat, di mana perubahan terjadi.
Proses membuat lubang itu sama sekali tidak mudah. Kami yang rata-rata jarang mencangkul di Yogya, cukup kesulitan untuk membuat lubang besar kedalaman setengah meter di tanah yang tidak lembut itu. Keringat dan darah kami bercucuran, berjatuhan di tanah, bersatu dengan bakteri-bakteri yang berpesta di tanah. Keringat dan darah kami bergelimpangan, menimbulkan kegamangan kami, mencoba mengikis rasa lelah kami terhadap setiap ayunan cangkul yang kami lakukan. Panas matahari semakin menambah bertanya usaha kami, angin yang panas dan tidak sejuk, perlahan menerpa wajah kami, menghembuskan rambut berantakan kami yang tidak lagi tersisir dengan rapi. Benar-benar sebuah pertunjukkan dari usaha keras manusia!
Akhirnya, dalam waktu yang lumayan lama, kami berhasil juga menyelesaikan tugas kami, kami berhasil membuat tiga lubang besar! Setelah itu, tanpa menunggu keringat kami kering, kami langsung beraksi. Sampah dikumpulkan, diberi air setengah liter yang sudah dicampur dengan bekteri EM4 sesuai takaran, dan diaduk-aduk. Kita taruh sampah itu dibawah, kita tutup dengan karung, sambil berharap penuh ketidak pastian. Kami berserah diri sepenuhnya kepadaMu ya Allah.
Setelah itu, semua rasa sakit seakan datang kembali. Rasa pegal dan lelah yang tadi kita acuhkan, perlahan datang kembali dan menyerang setiap inci tubuh kita. Saya tak luput dari rasa itu. Rasa sakit ini benar-benar menghujam saya! Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat, sejenak terbang ke dalam alam mimpi, tempat di mana saya bisa bertemu dengan orang-orang yang saya sayangi. Si cantik, aku datang.
Pada sore harinya, saya bersama teman-teman mengisi TPA di Baitul Muqoddas. Kali ini saya kebagian bermain bersama anak-anak cowok yang sudah lumayan pintar membaca iqro’. Hal itu membuat saya cukup mudah dalam menyimak mereka. Alhamdulillah, pelajaran TPA sore hari itu, tidak terlalu sulit.
Malam minggu adalah malam yang tepat untuk bermain bagi anak-anak muda. Di malam itu, biasanya saya bermain bersama si cantik, menuju tempat yang tidak pasti. Tak peduli ke mana tujuan kita, asal bersama, tak jadi soal apapun yang lainnya. Berdua memadu kasih, saling berteriak manja, penuh kemesraan dalam payungan langit hitam di atas sana. Tapi, itu biasanya.
Sedang hari ini, saya tidak dapat melakukannya. Saya harus tetap berada di desa Mantren, kali ini bertemu dengan pemuda Desa Mantren, untuk sekedar berkenalan, agar sama-sama tahu dan tidak canggung saat harus bersua di kemudian hari. Pertemuan ini penting, karena pertemuan ini, akan menjadi awal untuk ukhuwah yang akan kita coba bangun di kemudian hari.
Dan hari ini, saya akhiri dengan menonton pertandingan bola Voli di dekat masjid Al-ikhlas. Masjid terbesar yang ada di Desa Mantren. Letaknya ada di Mantren bagian selatan, dipinggir jalan raya. Pertandingannya sendiri cukup menarik, kedua tim saling adu smash. Sayangnya, tidak ada smash keras yang akurat, kalau tidak out, ya nyangkut di net. Pokoknya keren lah!

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s