KKN Day 6 : The Big Day For Moslems

Hari ini, adalah hari pertama saya merasakan hari Jum’at di Desa Mantren. Hari Jum’at itu spesial, karena hari Jum’at adalah hari besar umat islam. Hari Jum’at itu spesial, karena pada hari itu, kami para lelaki berkewajiban untuk melaksanakan sholat Jum’at. Karena itulah, hari Jum’at pertama yang dirasakan di negeri orang adalah sesuatu yang luar biasa.
Hari luar biasa ini saya awali dengan bermain sepakbola bersama warga Mantren. Kami mencoba membangun keakraban bersama dalam dekapan ukhuwah untuk menjalin kerja sama yang baik di Desa ini. Karena masih awal-awal, maka sarana olahraga ini sangat cocok untuk merekatkan tali persaudaraan kita.
Pertandingan kali ini mempertemukan antara Nglorog FC (dari mantren utara) dengan kesebelasan Pesantren FC (mantren tengah). Pertandingan berjalan imbang dan seru. Kedua tim sama-sama berorientasi menyerang. Kedua tim sama-sama ingin menciptakan banyak gol. Kedua tim adalah tim juara, haha, lebay! Skor akhir untuk pertandingan itu adalah 2-1 untuk Pesantren FC. Sayangnya, saya sama sekali tidak menciptakan gol.
Setelah selesai sepakbola, saya tidak melakukan program apa-apa. Saya hanya melakukan keharusan saya sebagai manusia, yaitu mencuci. Karena pakaian saya sudah kotor dan tidak layak dipakai lagi. Akhirnya dalam waktu sekitar satu jam, saya sudah menyelesaikan tugas mencuci saya.
Kemudian saya melakukan ritual itu, ritual Sholat Jum’at. Ritual besar yang merupakan bukti bahwa saya seorang muslim yang taat. Sholat Jum’at di Mantren tidak terlalu berbeda dengan sholat Jum’at di Yogya. Mungkin karena masih di daerah yang berbahasa jawa, maka kultur yang ada pun tidak terlalu berbeda. Jika dibandingkan dengan kultur Jum’atan yang ada di daerah Bogor saat saya bermain di sana, maka di Mantren berbeda jauh. Sholat Jum’atnya masih sama dengan yang di Yogya.
Selesai Jum’atan, saya merasa sangat ngantuk sekali! Akhirnya saya memutuskan untuk tidur di Mantren tengah. Sekalian mengisi tenaga, pikir saya.
Pada sore hari, kami dari Mantren Utara mengadakan Bimbingan belajar untuk adek-adek SD dan SMP. Harapanya dari program ini, kita dapat membagikan ilmu yang kita miliki sekaligus meningkatkan potensi yang ada di Desa Mantren. Karena memang, pada dasarnya potensi yang ada di Desa Mantren sangatlah banyak.
Eh iya, sebagai informasi tambahan, saya bertemu dengan adik cowok yang lucuuuuuu banget, Reza namanya. Sumpah, mukanya tuh lucu banget! Rambutnya lurus, bentuk wajahnya oval, kulitnya coklat sawo matang, dan yang paling lucu, matanya benar-benar tanpa dosa! Aiiiih, pokoknya lucu deh!
Selesai dari Bimbel, saya langsung bersantai sebentar di rumah pondokan, sembari menunggu waktu makan bersama yang lain, hoho. Hingga akhirnya saya makan.
Hari ini saya akhiri dengan bermain kartu bersama anak-anak Desa Mantren. Pokoknya seru deh!

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan, Sehari-hari

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s