Ketoprak dan Perkembangannya

eperti kita ketahui bersama, ketoprak pernah mengalami zaman keemasannya pada dahulu kala. Setidakny asampai pada tahun 80an, ketoprak masih menjadi primadona di sekitar masyarakat. Pada masa itu, menjadi pemain ketoprak sama bergengsinya dengan menjadi pemain film, bahkan mungkin lebih!

Namun, seiring perkembangan waktu, budaya ketoprak semakin lama semakin tergerus arus modernisasi. Modernisasi, yang seharusnya bisa menjadi alat untuk membantu kemajuan ketoprak, justru berangsur-angsur membekukan ketoprak itu sendiri. Ketoprak, harus diakui, tidak mampu mengambil posisi yang tepat dalam modernisasi ini. Fenomena global village yang sebenarnya merupakan kesempatan emas bagi ketoprak untuk memperkenalkan budaya luhur ini kepada dunia, justru menjadi momok yang mengerikan untuk ketoprak itu sendiri.

Perkembangan bisnis hiburan di media massa yang pesat. Seperti contohnya radio, televisi, dan juga berbagai macam hiburan di internet telah menyedot animo masyarakat dan sedikit demi sedikit membuat ketoprak semakin kesepian di dunianya sendiri. Meskipun sempat ada beberapa acara ketoprak yang sukses di media massa, seperti ketoprak humor di RCTI beberapa tahun yang lalu, namun secara keseluruhan, ketoprak semakin terpuruk.

Bukti dari hipotesis itu bisa dilihat pada kehidupan para seniman ketoprak jaman sekarang. Kami mengambil contoh pada seniman ketoprak yang bermain di ketoprak radio. Para seniman itu, memang masih menjadi seniman ketoprak yang murni. Mereka termasuk satu dari sedikit orang yang masih berusaha untuk nguri-nguri budaya jawa. Namun, pada aspek ekonominya, mereka ternyata sudah tidak bisa bergantung pada kehidupan sebagai pemain ketoprak lagi. Kebanyakan bermain ketoprak hanya saat ada job (yang sudah semakin sedikit) atau minimal yang rutin adalah hari rabu malam untuk siaran off air di radio. Sisanya? Ada yang harus menjadi karyawan, ada juga yang berdagang tas kulit, dan berbagai pekerjaan lainnya. Intinya adalah : menjadi pemain ketoprak sudah bukan pekerjaan utama, melainkan hanya pengerjaan hobi dan pengabdian pada budaya!

Mungkin karena faktor ekonomi itulah, peminat penerus budaya ketoprak semakin mengkhawatirkan. Dari semua masalah yang ada, masalah utama dari ketoprak adalah pada satu hal, yaitu regenerasi. Ya, regenerasi ketoprak benar-benar berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Bayangkan, biasanya usia termuda yang sekarang bermain ketoprak adalah menginjak 30an! Dan itu sudah dianggap sangat muda. Betapa mengkhawatirkannya kondisi ketoprak zaman sekarang.

Pada akhirnya, ketoprak yang merupakan ekspresi komunikasi dari aspek budaya itu sendiri, kini sedang berjuang untuk menjaga eksistensinya di dunia hiburan tanah air. Namun, tanpa kesadaran dari masing-masing kita, sebagai orang Indonesia, perjuangan dari ketoprak itu tidak akan berarti. Usaha ketoprak untuk mengikuti perkembangan zaman, juga menimbulkan potensi baru, yaitu hilangnya nilai-nilai asli dari ketoprak. Contoh utamanya adalah acara televisi Opera Van Java. Di mana pada acara itu, sudah terlihat jelas pergeseran nilai-nilai yang ada pada ketoprak. Menarik untuk disimak, apakah sepuluh tahun mendatang, ketoprak masih menyisakan nilai-nilainya yang luhur.

1 Komentar

Filed under Freedom to speak, tugas

One response to “Ketoprak dan Perkembangannya

  1. nek nang Pati ana desa sing wargane ki ngetoprak kabeh, sering pentas. Tapi ya kuwi nek ga pentas kembali ke kehidupannya (dagang, ngantor, dll)

    Semoga 10thn lagi kita masih bisa menikmati ketoprak (bukan makanan)

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s