Anarkisme Kampus

Mahasiswa dan Kampus masih dianggap mewah di Indonesia. Bahkan saking mewahnya, ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa kampus itu layaknya menara gading yang ‘mengeksklusifkan’ diri dari lingkungannya. Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change tentunya diharapkan akan menghapus pandangan ini.

Mahasiswa diharapkan akan mampu membuktikan kepada masyarakat luas, bahwa kampus bukanlah menara gading. Mereka harus membuktikan bahwa kampus adalah tempat para mahasiswa menimba ilmu yang nantinya akan kembali kepada masyarakat luas juga.
Namun sayangnya, harapan itu masih jauh dari kenyataan. Pasalnya, mahasiswa yang diharapkan menjadi agent of change, sang pencerah, justru melakukan banyak tindakan bodoh. Salah satu yang paling mencolok sekaligus memalukan adalah : tindakan anarki.

Mahasiswa yang dianggap sebagai kaum terdidik tidak seharusnya memilih jalur kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Kaum terdidik
idealnya memakai akal sehat untuk mencari solusi terbaik dalam suatu konflik. Bukannya menggunakan otot yang jelas-jelas merugikan semuanya.

Namun kenyataannya, mahasiswa masih kerap menggunakan jalur anarki sebagai solusi terbaik. Bahkan, tindakan anarkis itu sering terepresentasikan dalam bentuk anarkis yang paling memalukan, yaitu tawuran.

Tawuran artinya melibatkan banyak orang. Tidak berdiri sendiri. Sehingga jumlah lah yang menentukan di situ. Berarti orang yang terlibat di dalamnya itu bermental tempe, bukan begitu?

Tawurannya pun bisa karena berbagai alasan. Ada yang alasannya bermuatan politis seperti demo yang tidak tertib lalu bentrok dengan polisi. Ada juga tawuran yang disebabkan hal remeh temeh, seperti tawuran antar fakultas setelah pertandingan olahraga.

Mungkin jika kita kaitkan dengan Yogyakarta yang nota bene adalah kota pendidikan, kasus anarkis tidak terlalu besar. Apalagi jika tolak ukurnya adalah Jakarta, Makassar, dan daerah luar jawa yang rawan konflik lainnya. Namun, bukan berarti kota Yogyakarta aman dari ancaman konflik semacam ini.

Kita lihat saja pada kondisi sekolah menengah yang ada di kota Jogja sekarang. Bukankah sudah ada kubu-kubu antar sekolah yang bertikai bahkan sampai ada dendam kesumat terhadap murid sekolah-yang dianggap musuh- meskipun tidak saling mengenal? Sampai-sampai identitas sekolah harus disembunyikan dan diganti dengan ‘Pelajar Kota Jogja’.

Jika kondisi sekolah saja bisa seperti itu, mengapa hal yang sama tidak terjadi di level kampus? Tentunya ada satu jawabannya, yaitu mahasiswa harus sudah memiliki pola pikir yang lebih dewasa dibanding siswa sekolah menengah.

Karena itulah, mahasiswa seyogyanya tetap mengutamakan akal dalam bertindak. Meskipun kadangkala itu susah saat dipraktekkan dalam kondisi di tengah-tengah massa yang sedang tersulut emosinya.

Sulit, tapi bukan mustahil. Kedewasaan alamiah, serta sistem kampus yang menunjang kematangan pola berpikir mahasiswa akan menjadi penentunya. Tentunya, kita tidak ingin jika kaum terpelajar kita lebih suka menggunakan tinjunya bukan?

Tinggalkan komentar

Filed under pendidikan

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s