Benarkah Mahasiswa Rantau Itu Mandiri

Jogja identik dengan kota pendidikan. Salah satu buktnya adalah dengan abnyaknya perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang ada di kota ini. Akibatnya, banyak sekali mahasiswa yang datang berduyun-duyun ke Jogja dengan tujuan menuntut ilmu. Hal itu mengakibatkan banyaknya manusia rantau yang hidup di Jogjakarta.

Manusia rantau, kebanyakan memilih tinggal secara kontrak atau juga menyewa kamar kos. Mereka hidup sendirian dengan teman ataupun saudara. Namun, kebanyakan hidup sendirian. Mengembara ke tempat yang asing bernama Jogja dan hanya bermodalkan tekad untuk belajar.

Karena kehebatan-kehebatan itulah, akhirnya timbul sebuah anggapan di masyarakat, bahwa anak rantau di Jogja pasti mandiri. Mereka akan memcuci sendiri, memasak sendiri, pokoknya semuanya serba sendiri dan tidak tergantung orangtua lagi. Hebat sekali bukan?

Tapi tunggu dulu, benarkah anak rantau di Jogja itu mandiri? Ada beberap hal yang terkesan memberatkan fakta itu. Ada bukti yang paling nyata : menjamurnya usaha-usaha kerumahtanggaan di daerah mahasiswa!

Seperti kita tahu, di daerah mahasiswa sekarang ini, sudah banyak bermunculan usaha-usaha laundry. Tipenya pun bermacam-macam, laundry baju, laundry karpet, bahkan usaha cuci motor! Semuanya terus bertambah di daerah Jogja sekarang ini. Menandakan bahwa prospek usaha ini sangat menjanjikan. Artinya, banyak mahasiswa yang senang dengan adanya usaha ini dan memakai jasanya.

Selain itu, ada juga usaha makanan rumahan yang semakin menunjukan tren positif. Fenomena bagaimana rumah makan bertema “burjo” yang terus menginvasi kawasan padat mahasiswa. Bagaimana warung bertema burjo yang sangat kental dengan aroma rumah (nasi telur, mie instant, kopi sachetan, dan aneka macam gorengan) bisa menjadi primadona ditengah kreatifitas rumah makan lain yang unik jelas menjadi keanehan sendiri. Apakah mahasiswa segitu sukanya dengan makanan sederhana khas rumah? Dan apakah mereka tidak bisa membuat sendiri makanan itu di kos ataupun di kontrakan mereka?
Jadi, kembali lagi kita dihadapkan pada pertanyaan yang sama, benarkah mahasiswa rantau itu mandiri? Kalau mandiri, kenapa usaha-usaha bertipe rumah tangga itu bisa tumbuh pesat?

Ya, mungkin ada sedikit sanggahan, bahwa mahasiswa sekarang terlalu sibuk dan susah untuk mengurus diri sendiri. Sehingga adanya jasa seperti laundry dan warung makan rumahan sangat membantu. Namun, kita akui atau tidak, mahasiswa jaman sekarang sudah terlalu ‘manja’ dibanding dengan mahasiswa jaman dahulu, mahasiswa yang benar-benar berjuang mati-matian.

1 Komentar

Filed under Freedom to speak, Gag jelas, Sehari-hari

One response to “Benarkah Mahasiswa Rantau Itu Mandiri

  1. ckaka

    ahaha, bener juga sih,, ga prnah masak, ga prnah nyuci (paling daleman, malu kalo di laundry, klo ga mlu sih, pengennya dititipn seklian..wkwkw), ga prrnh nyuci mtr sendri.. ahaha,, bnr2 tlh dimanjakan. sutralah, yang penting ga berpengaruh ma kiriman bulanan. haha nice post😉

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s