Story From Bogor : The Journey

Hari Selasa (25-01-2011) kemarin, saya memutuskan untuk pergi ke Bogor. Bukan untuk roadshow konser promo album saya yang terbaru tentunya. Lha wong saya gag punya album apa-apa kok kecuali album foto di fesbuk. Tujuan saya pergi ke Bogor kali ini sangatlah suci. Meskipun saya sebut kata ‘suci’, bukan berarti saya mengambil kitab suci lowh. Emang muka saya mirip Pat kay apa? Lalu, apa tujuan saya pergi ke Bogor? Bisa jadi, ini tidaklah penting bagi sebagian orang, namun sangat penting bagi saya.

Adapun tujuan saya pergi ke Bogor adalah untuk menjemput Ibu. Yap, menjemput ibu kandung, bukan ibu mertua, ibu tiri, apalagi ibunya anak-anak saya, tapi murni ibu saya. Ibu yang telah melahirkan saya, mengandung saya selama sembilan bulan, dan membelikan saya mainan saat saya masih kecil. Ehm ,sebenarnya, sekarang pun ibu saya masih membelikan mainan, seperti laptop misalnya, hehe.

Namun, ternyata perjalanan itu tidak semudah yang saya bayangkan. Dalam perjalanan itu saya menemui banyak rintangan. 33 cobaan dan 100 halangan, itu kalau saya Tong Sam Chong yang mengambil kitab suci. Maklum, di sana saya sendirian dan baru kali ini pergi ke Bogor naik bis. Untungnya, semua hal-hal teknis sudah diurus sama kakak saya. Sehingga saya tinggal take off saja. Akan tetapi, ternyata semua tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya akan memulai cerita ini dari sesaat sebelum saya berangkat. Dalam waktu itu, tiba-tiba saya menderita sedikit sakit. Perut bersin-bersin dan hidung mual-mual, benar-benar tidak enak. Namun saya memaksakan diri untuk tetap berangkat. Iya donk, cowok masak gitu aja nyerah, gag banget deh!😛 Akhirnya, dengan keadaan yang cukup sulit itu, saya memutuskan untuk tetap berangkat.

Setelah itu di bis, saya mengalami kendala lagi. Di bis itu, barang bawaan saya terlalu banyak. Sehingga akhirnya tas saya memenuhi tempat duduk saya! Alamak, benar-benar susah untuk duduk. Apalagi, disamping saya ada cewek lebih tua dari saya yang masih labil. Kerjaannya cuman manggilin handphonenya dengan sebutan ‘sayang’! Benar-benar labil. Tapi naluri kelaki-lakian saya membuat saya tetap malu untuk duduk serampangan di depan cewek, eh maksudnya di samping cewek. Alhasil, karena naluri itu, saya jadi susah banget untuk tidur!

Selang beberapa waktu, akhirnya saya menemukan posisi tidur yang pas. Sumpah, enak banget! Rasanya dengan posisi tidur itu, saya akan nayaman sampai di Bogor. Namun, baru saja mata saya nyaris terlelap, tiba-tiba bis berhenti! What the… Batin saya. Ternyata, bis berhenti untuk makan. Saya ingat bahwa kakak saya sempat bilang gini, “Ntar kalau makan gag usah bayar!”

Saya yang bingung pun kemudian bertanya, “Berarti ntar di sana aku harus mencuri makanan? Ogah ah, mending ngeluarin duit!”

Kakak saya pun emosi dan menjerit, “Bukan nyolong bodoooong, pake ini loh!!” Katanya sambil menampar-namparkan kertas kepada saya. Pertama-tama saya pikir itu adalah check berisi satu milyar, tapi ternyata salah. Kertas itu adalah kupon makan, sudah satu paket dengan karcis bis. Saya baru ngeh, ternyata pembelian karcis sudah menyertakan makan malam dalam paket hematnya.

Saya pun beranjak turun untuk makan. Walaupun perut tidak terlalu lapar, namun saya rasa akan menyenangkan jika dapat makan gratis. Tanpa diduga, saat saya keluar dari kursi (baru dari kursi, masih di bis) ada seorang wanita putih muda di depan saya. Mungkin karena melihat wajah ganteng saya, dia langsung mengikat rambutnya supaya terlihat rapi. Tapi karena terlalu bersemangat, rambutnya terlalu kencang dan menyerempet hidung seksi saya! Awalnya, saya sempat berharap untuk dapat mencium wangi rambutnya yang memang wangi, namun setelah melihat ada kutu rambut di hidung saya, saya jadi jijik sama cewek itu. Sekarang, saya baru tau kalau kutu rambut itu berasal dari bulu hidung saya sendiri, bukan dari rambut cewek itu. Mungkin, itu adalah bentuk teguran dari Tuhan supaya saya tetap setia sama si cantik, sang wanitaku.😀

Setelah turun dari bis, saya pun langsung menuju ke tempat favorit saya waktu SMA, kamar mandi! Biasa, orang ganteng sukanya ke kamar mandi. Kalau orang pinter suka ke perpus, orang keren suka ke gym, orang baik suka ke masjid.Kemudian saya meneruskan untuk sembahyang, dan kemudian terakhir, saya pergi makan.

Selesai makan, saya bergegas pergi ke bis saya tadi. Namun, saya sangat kaget saat melihat ada banyak bis dengan wajah sama persis yang parkir di tempat yang berjejeran! Oh, bis saya yang mana nih??

Untungnya, saya ganteng, sehingga saya punya pemecahan yang jenius (gag nyambung). Saya cari cewek yang tadi nampar hidung saya dengan rambutnya. Setelah itu, saya kebetulan juga bertemu dengan cewek labil yang duduk di samping saya. Saya bisa menemukan dia karena mendengar dia mengucapkan sayang di hapenya. Oke, sebenarnya tidak selebay itu juga sih.

Akhirnya, saya berhasil duduk kembali di bis. Menunggu waktu untuk segera sampai di Bogor. Rutenya pun cukup jauh, mula-mula saya harus menuju boyolali-salatiga-semarang-saya ketiduran-kendal, weleri (tempat kita berhenti makan)-lalu saya tidak tahu-batang-pekalongan-dan saya rasa banyak lainnya yang terlewat. Saya juga sempat melewati tempat yang isinya hanya pohon besar saja. Saya tidak tahu nama tempat itu sampai saya mendengar ada seorang ibu yang bilang pada anaknya, “Kita sekarang ada di Alas Roban.” Oke, saya anggap saya ada di Alas Roban.

Setelah itu, kita sampai di Jawa barat, Jakarta, dan mulai banyak penumpang yang turun. Saya yang tidak tahu apa-apa pun bingung. Kata kakak saya, saya harus turun di Baranangsiang. Hemm, saya tidak tahu tempat macam apa itu. Saya terus menunggu hingga akhirnya, semua penumpang habis. Benar-benar habis. Lalu sopir dan kondektur (yang semuanya adalah orang jawa asli, saya yakin orang bogor akan bingung jika naik bis ini) pun ngobrol, “Uwis entek kabeh thaw?”
Si kondektur pun menjawab dengan santai, “Uwis og ketokke.” What the fuck (kali ini tanpa sensor)!!! Trus Saya dianggap apa neh? Saya pun langsung melompat dari tempat tidur, eh, tempat duduk saya. Saya berteriak-teriak bertanya di mana baranangsiang. Untungnya, setelah itu saya diturunkan di tempat yang tidak jauh dari baranangsiang. Ternyata, saya sudah kelewatan! Untungya, saya cuma kelewatan 100m. Saya sadar, saya terlalu histeris.

Akhirnya, di sinilah saya, mendarat di tanah Bogor dengan damai. Dan siap untuk mendapat petualangan baru!

1 Komentar

Filed under Freedom to speak, Gag jelas, Sehari-hari

One response to “Story From Bogor : The Journey

  1. Wah, kalo ke bogor lagi ntar bilang2 mas…

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s