Story From Bogor : Lost In The Town

Yah, saya baru saja sampai di Bogor kemarin. Saat itu, saya dijemput oleh kakak saya. Dia adalah kakak cewek saya yang satunya, beda dengan kakak cewek saya yang ada di Solo. Jadi, untuk memudahkan perbedaannya, saya akan sebut dia dengan teteh, hoho. Teteh menjemput saya dan mengajak saya naik angkot no.01 di terminal Baranangsiang. Angkot itu menuju ke Baranangsiang Indah. Sebuah perumahan yang cukup indah juga. Sepertinya, yang ada di sana adalah orang-orang kaya. Saya pun langsung mengira bahwa rumah teteh saya ada di barisan perumahan mewah itu. Akan tetapi, ternyata rumahnya ada di samping perumahan itu. Sebuah kawasan padat penduduk yang luar biasa padat. Saya yakin, di kawasan itu tidak ada rumah yang ada tempat parkir mobilnya. Kecuali, mobilnya diparkir di jalan raya, atau di halaman masjid kampung, hehe.

Namun, secara estetika, kawasan itu sangatlah indah. Dari situ terlihat dua gunung yang berdiri kokoh di arah selatan dan timur. Sayang, teteh tidak tahu apa nama gunung-gunung itu. Mungkin lain kali saya akan mencari tahu. Tapi tanpa melihat apa nama gunung itu, saya secara pribadi sangat mengagumi keindahannya. I love this view!!

Kemudian pada keseokan paginya, saya diajak Ibu saya untuk jalan-jalan romantis berdua, hoho. Beliau mengajak saya untuk menikmati taman perumahan yang indah dan asik untuk dijadikan tempat olahraga. Di taman itu, banyak orang-orang tua yang jalan santai, juga ada yang bermain golf dengan peralatan yang (sepertinya) mahal-mahal.

Selain para lansia penuh semangat itu, saya juga melihat banyak pedagang yang mencoba mencari penghidupan di daerah elit itu. Untungnya, sebelum saya merengek-rengek minta dibelikan makanan, ibu saya sudah menawari untuk membeli makanan itu. Ibu saya membelikan sebuah bakmi toprak untuk saya dan bubur ayam untuk keponakan saya. Harganya pun tidak terlalu mahal, yah setidaknya tidak separah harga Bandung atau Jakarta lah. Harga untuk bubur ayam di Bogor adalah 4000 rupiah, tidak beda dengan Yogya atau Solo. Sedang bakmi toprak juga lumayan murah, hanya 600 rupiah saja! Eh, maaf, enolnya hilang satu, yang benar adalah 6000 rupiah.

Ternyata, bakmi toprak di Bogor sangat berbeda dengan yang ada di Jawa. Kalau di Jawa, bakmi toprak pasti ada kuahnya. Sedang bakmi toprak di Bogor lebih mirip tahu kupat yang sambelnya sambel kacang, sedang tahu kupat sambelnya adalah sambel kecap. Tapi karena saat itu saya sedang lapar, saya anggap bakmi toprak Bogor sangat enak.

Setelah selesai bermain-main di pagi hari, siangnya saya bermaksud untuk bertualang di Bogor. Maklum, saya adalah seorang petualang yang selalu ingin tahun dunia yang baru. Karena saya sangat menyenangi dunia yang asing, dan benci terhadap dunia yang itu-itu saja. Bagi saya dunia yang sama dan rutin sangatlah membosankan. Karena itulah, saya ingin bertualang di Kota Bogor.

Akhirnya, petualangan saya di Bogor pun dimulai.

Saya memulai petualangan saya dengan menaiki angkot jurusan 11. Dari situ, saya berharap untuk menuju IPB. Karena menurut informasi dari teteh, angkot 11 akan langsung menuju IPB. Entah maksudnya IPB yang mana, karena ternyata IPB memiliki banyak cabang.

Di dalam angkot, saya duduk bersama anak-anak SMP yang sepertinya masih labil. Dibanding membicarakan pelajaran, mereka lebih memilih membicarakan cinta. Yang bisa saya tangkap dari pembicaraan mereka adalah, sepertinya ada salah satu diantara mereka yang baru saja jadian. Hal itu terlihat dari pertanyaan salah seorang cowok terhadap si ABG cewek. “Hey, yang kamu suka dari ‘si hidung’ apa sih?” sepertinya si hidung adalah sebutan untuk orang yang baru saja menaklukkan hati si ABG cewek.

Karena pertanyaannya adalah si hidung, jawabannya pun tidak jauh-jauh dari itu. “Ya jelas hidungnya lah!” Jawab si cewek ABG. Lalu mereka pun tertawa bersama. Sungguh aneh sekali. Oke oke, saya lah yang aneh. Ngapain juga saya menguping pembicaraan anak-anak SMP yang mungkin merasakan ‘wet dream’ aja belum? Baiklah, saya yang salah.

Selang beberapa waktu, akhirnya kita sampai di sebuah tempat. Sebuah tempat di mana semua penumpang selain saya pada turun! Saya pun jadi sedikit panik dan bertanya pada si sopir angkot. “A’ IPB mana yak?” Kata saya dengan logat sunja (sunda jawa).

“Owh, itu IPB A’!” Kata si sopir sambil menunjuk ke perempatan seberang.

“Emm, itu ya A’? Oke deh.” Balasku sambil beranjak mengambil uang.

Namun belum sempat saya mengambil uang, si Aa’ sudah menyambung lagi. “IPBnya mana dulu A’?” Saya pun jadi bingung.
Belum sempat saya membalas, si Aa’ sudah menambahi lagi. “IPB dermaga atau kota?”

Kali ini saya tidak mau kalah cepat lagi. Saya langsung menjawab dengan cepat, “Kota A’!”

Si Aa’ langsung membalas lagi, “Kota tu yang di baranangsiang atau…” Setelah mendengar kata-kata Aa’ itu, saya jadi enggan meneruskan pembicaraan dengannya. Saya bisa membayangkan bahwa pertanyaan dari si Aa’ tidak akan habis-habis. Misalnya seperti ini :

“Baranangsiang!”

“Baranangsiangnya mana? Gedung sarjana, pasca sarjana, atau diploma?”

“Sarjana!”

“Sarjananya mana? Pertanian atau perikanan?”

“Pertanian!”

“Pertaniannya yang merah atau yang biru?”

See? Saya rasa pilihan saya untuk segera pergi tidaklah salah, hoho.

Setelah itu, saya pun segera turun. Saya melanjutkan melangkah secara sembarangan di sekitar kampus pasca sarjana IPB. Sepertinya, tempat itu bukanlah kampus utama. Saya meyakini hal itu karena gedung itu tidak ada boulevardnya. Masak kampus sebesar IPB kalah ama UNY dan UNS yang ada boulevardnya? Gag mungkin lah ciiin, hehe.

Saya berjalan menyusuri jalanan yang makin lama makin sempit. Sesaat saya merasa ada di derah kuningan, tempat persilangan mahasiswa UGM dan UNY. Berdasarkan papan petunjuk yang ada, saya tahu bahwa saat itu saya berada di Jalan Malabar kelurahan Babakan, sepertinya sih.

Di jalan itu juga saya mendapati tulisan yang cukup unik. BOGOR BEBAS ROKOK. Sebuah ironi bagi saya, mengingat bahwa kota ini penuh sampah. Memang, sekilas tidak ada yang nyambung antara keduanya. Tapi menurut saya, kalau sampah saja tidak dibersihkan dengan benar, bagaimana mungkin membersihkan kota ini dari rokok? Makin tidak nyambung ya? Ya sudahlah.

Semakin lama saya berjalan, maka semakin bingung juga saya. Sepertinya, saya sudah tersesat. Saya tidak tahu lagi saya berada di mana. Memang sih, saya bisa tahu nama desa, nama jalan, atau nama kecamatannya, namun saya tidak tahu sama sekali bagaimana cara untuk pulang ke rumah teteh!

Saya terus berjalan menyusuri setiap jalanan yang saya rasa benar. Saya tidak tahu arah angin di kota ini. Namun saya mengandalkan feeling saya yang biasanya manjur. Akhirnya, saya menemukan tempat yang cukup saya kenal, tol jagorawi. Hemm, saya rasa sebentar lagi saya akan pulang.

Ternyata benar, saya berhasil menemukan angkot jurusan 01. Jika sudah seperti itu, berarti saya tinggal berjalan mengikuti arahnya saja. Dan akhirnya, yeah! Saya berhasil menemukan angkot pujaan hati saya, angkot 11!

Sebelum naik, saya pastikan dulu melihat supirnya. Apakah sama dengan yang banyak nanya tadi? Ternyata tidak! Saya pun langsung naik. Dan akhirnya boom, saya kembali dengan selamat! Tanpa kurang apapun, yee haa!!

1 Komentar

Filed under Freedom to speak, Gag jelas, Sehari-hari

One response to “Story From Bogor : Lost In The Town

  1. Waduh maaas….

    Ke bogor ngga’ bilang2….
    Tau gitu saya temenin jalan2…

    Hahahahah….

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s