Dengan Siapa Kita Harus Belajar

Belajar, adalah sebuah proses yang bisa dibilang proses terpenting yang dialami manusia. Kita bisa membaca novel mesum, menghitung jumlah kotoran yang dikeluarkan oleh sapi, ataupun berciuman, semunaya berawal dari belajar. Karena memang sesungguhnya, belajar tidak akan berhenti dilakukan oleh manusia.

Bahkan, teori itu tetap berlaku untuk manusia yang bisa dibilang ahli sekalipun. Entah itu professor, insinyur, sampai kondektur. Tidak ada pengecualian. Semuanya akan terus mengalami proses yang dinamakan belajar. Jadi, di sini secara tidak sengaja, kita sudah sepakat bahwa belajar itu penting.

Kemudian, berpijak pada kenyataan itu, ada baiknya jika kita renungkan lebih lanjut lagi. Bagaimana kita belajar selama ini. Saya di sini bukan bermaksud untuk mengajari bagaimana cara belajar. Toh, saya sendiri masih banyak kekuarangan saat belajar. Kadangkala saya sangat konsen dalam belajar, sehingga sekali kejadian langsung dapat saya pahami. Namun ada kalanya saya tidak konsen dalam belajar. Entah itu karena melihat wanita cantik berbaju merah yang lewat di depan kamar saya, ataupun melihat cowok telanjang yang berlari sambil menutupi bagian terpentingnya. Jadi intinya, saya di sini tidak bermaksud untuk mengajari anda untuk belajar.

Lalu, mau apa saya dengan kata ‘belajar’? Apa yang ingin saya sampaikan dengan kata ‘belajar’ ini? Apa pentingnya bagi anda yang barangkali sudah terlalu pintar belajar? Well, ada baiknya anda membaca tulisan ini sampai tuntas.

Sebenarnya yang ingin saya sampaikan sekarang lebih mirip seperti sebuah kritikan. Kritikan bagi cara pandang sebagian orang terhadap belajar. Yaitu perihal memilih teman belajar. Hal ini didasari dari masih seringnya saya mendapati pendapat teman-teman saya yang merasa lebih senang jika belajar dengan orang yang lebih pintar. Saya sangat tidak setuju dengan paradigma itu.

Memang sih, pada kenyataannya, saya belum pernah melakukan penelitian yang valid tentang paradigma ini. Namun kenyataan bahwa sebagian besar teman-teman saya memiliki pandangan itulah yang membuat saya merasa perlu untuk melakukan kritikan berdasar kepercayaan saya ini.

Oke, jadi sekarang, pertanyaannya adalah, mengapa saya tidak suka dengan anggapan bahwa belajar dengan orang yang lebih pintar itu baik?

Sebelumnya, marilah kita telisik satu-satu kelebihan belajar bersama orang yang lebih pintar terlebih dahulu. Menurut saya kelebihan yang didapat adalah kita akan dapat banyak bertanya dari orang itu. Lalu kita pasti akan mendapat ilmu baru. Dengan menganggap dia orang yang lebih pintar, kita akan merasa rendah hati di depannya. Artinya, otak kita akan lebih terbuka untuk mendapat ilmu baru, yang membuat ilmu lebih gampang masuk. Dan mungkin selain itu masih ada berbagai keuntungan lainnya. Apalagi kalau orang yang lebih pintar itu juga ganteng dan cantik. Oke, yang terakhir tidak masuk hitungan.

Setelah melihat berbagai keuntungan itu, mari kita bandingkan jika kita belajar bersama dengan orang yang setingkat kepintarannya dengan kita. Beberapa keuntungan yang mungkin didapatkan adalah sebagai berikut : Kita dapat membicarakan suatu ilmu itu dengan mereka. Namun ilmu itu belum tentu kita percaya, dan tentu saja, bisa jadi kita malah hanya debat kusir saja. Ilmu mereka yang standar dan hampir sama dengan kita tentunya juga akan malah membuat kita menjadi berlomba-lomba untuk menunjukan siapa yang lebih pintar diantara kita. Padahal, seharusnya kita belajar, bukannya malah bersaing. Bukan begitu?

Lalu, mari kita coba lihat keuntungan jika kita belajar dengan orang yang dibawah kita. Adakah keuntungannya? Mungkin saja tidak ada, karena pasti justru kita yang mengajari mereka. Akhirnya, kita malah jadi pengajar di sana. Niat kita untuk belajar malah terhambat. Kita justru kehilangan waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk belajar ilmu yang lainnya.

Hmm, jika dipikir-pikir, belajar dengan orang yang lebih pintar memang menggiurkan. Kita akan mendapat berbagai keuntungan hanya karena belajar dengan orang pintar. Sekarang, mari kita coba lihat sebuah fakta :

Tahukah anda bahwa otak kita rata-rata mengingat (Faudzil Adhim :2005) :
• 10% apa yang kita baca
• 20% apa yang kita dengar
• 30% apa yang kita lihat
• 50% apa yang kita lihat sekaligus dengar
• 70% kalau kita bicarakan dengan orang lain
• 80% jika kita mengalami
• 95% jika kita mengajarkannya pada orang lain

Karena itu adalah fakta yang saya dapat dari sebuah buku yang sudah dicetak, tentunya fakta itu bisa disebut sangat kompeten. Jadi sekarang, saya anggap kita sepakat akan fakta di atas.

Lalu, coba kita masukkan pada setiap kategori teman belajar kita.

Jika kita belajar dengan orang yang lebih pintar, maka kita akan mendapat ilmu dari mereka. Otomatis kita akan menjadi pendengar sekaligus pemirsa mereka. Jadi maksimal ilmu yang akan kita ingat adalah sekitar 50%. Ya, hanya 50% dari ilmu baru yang tentunya seabrek itu.

Jika kita belajar dengan orang yang sepadan dengan kita, maka kita akan membicarakan ilmu kita dengan mereka. Otomatis, kita akan bercakap-cakap seputar ilmu dengan mereka. Dan kemungkinan yang akan kita ingat dari ilmu itu adalah sekitar 70% dari keseluruhan. Memang ada kemungkinan akan terjadi debat kusir dan saingan gag jelas dalam proses belajar. Namun justru dari situ kita akan mendapat pemahaman baru. Dan pemahaman baru yang kemungkinan besar tidak begitu banyak itu akan kita serap sebanyak 70%. Lumayan juga sih.

Lalu bagaimana dengan belajar bersama orang yang dibawah kita? Kemungkinan besar kita akan memberikan ilmu kita kepada mereka. Dan otomatis, kita justru akan mengingat apa yang kita ajarkan kepada mereka sebanyak 95%. Artinya, mendekati sempurna!

Tentunya kita pernah mendengar sebuah kata-kata bijak dari seorang tokoh (saya lupa namanya). “Bila saya punya apel kemudian saya tukarkan dengan apel teman saya, maka apel saya akan jadi tetap satu. Namun bila saya punya ilmu kemudian saya tukarkan dengan ilmu teman saya, maka ilmu saya akan menjadi dua”. Memang simpel, tapi seringkali kita melupakan konsep itu.

Pada dasarnya, kita tidak perlu risih jika harus berbagi ilmu. Kita mungkin mengira bahwa dengan berbagi ilmu kita telah merugi. Namun sebenarnya, ilmu kita justru akan bertambah saat kita mengajarkannya pada orang lain. Entah itu dengan lisan, tulisan, audio, maupun video, tetap saja ilmu yang kita share kan akan membantu diri kita juga.

Bukan berarti kita tidak perlu belajar dengan orang yang lebih pintar. Sama sekali tidak ada larangannya untuk itu. Malahan, sebaiknya kita bervariasi. Menurut saya, sebuah metode simpelnya bisa jadi seperti ini:

Kita belajar dan mengambil ilmu baru dari orang yang lebih pintar dari kita. Lalu kita mencoba menambah pemahaman dengan mendiskusikan ilmu itu dengan orang yang sepantaran dengan kita. Dan akhirnya, kita semakin menyempurnakan ilmu kita dengan belajar dengan orang yang dibawah kita, atau bahasa ramahnya orang yang masih kurang mengerti. Meskipun jika kita sudah melakukannya, ilmu kita tetap tidak akan sempurna. Karena kesempurnaan adalah milik Allah.

Dan yang terpenting, kita tidak boleh berhenti belajar. Sampai maut menjemput kita.

1 Komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan

One response to “Dengan Siapa Kita Harus Belajar

  1. fianblog

    jangan pernah berhenti untuk belajar.
    nice artikel,🙂

    fianblog.wordpress.com

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s