Overprotektif Versus Kebebasan

Kebebasan, satu kata yang saya yakin selalu diharapkan oleh setiap orang untuk mereka dapatkan. Terbukti dari banyaknya cerita rakyat yang menggambarkan rakyat jelata berjuang keras untuk mendapatkan kebebasan mereka. Cerita bagaimana kemerdekaan sangat didambakan oleh setiap negara. Bahkan banyak negara yang merayakan hari kemerdekaannya. Dan hal itu juga berlaku di dalam kebebasan dalam hubungan percintaan.

Ya, kebebasan masih merupakan isu yang seksi saat kita kaitkan dengan cinta. Karena cinta pun tidak akan diperkenankan dengan mudah untuk merenggut kebebasan seseorang. Istilah tentang pengekangan kebebasan di dalam dunia cinta sering kita sebut dengan overprotektif.

Apa sih overprotektif itu? Bagi anda yang kesulitan berbahasa inggris, saya akan mencoba mengartikannya untuk anda, cuma untuk anda. Jadi secara bahasa, over berarti terlalu, protektif berarti melindungi / menjaga. Sehingga arti utuhnya adalah menjaga orang yang keterlaluan. Oke, itu salah. Yang benar adalah terlalu menjaga, atau lebih enaknya kita katakan, sok melindungi.

Tapi tentu saja, overprotektif tidak sesimpel itu juga. Overprotektif tidak sekedar sok melindungi saja. Namun ada berbagai aspek lain yang bisa jadi mengarah ke sana. Intinya, menurut saya adalah, sebuah keadaan di mana salah satu pihak jadi terlalu mengekang kebebasan pihak yang lainnya dikarenakan rasa tidak percaya yang berlebihan.

Rasa tidak percaya? Apa hubungannya rasa tidak percaya dengan mengekang? Tentu saja ada. Meskipun hubungannya tidak sampai sedekat ayah-anak, tapi Cuma menantu dengan kakek tiri (ngomongin apa sih?). Yah, asal tidak antara bapak bejat dengan anak haram aja sih gag papa, baiklah, saya makin ngaco, saya tau itu. Jadi hubungan antara tidak percaya dan mengekang adalah… SETELAH PESAN-PESAN BERIKUT!! (dengan gaya seperti oky lukman di salah satu acara anak di salah satu stasiun televisi yang sering ditonton oleh salah satu keluarga saya) Baiklah baik, sekarang saya serius, tidak ada iklan-iklanan lagi (yaiyalah, mana ada sponsor yang mau pasang iklan di sini?).

Iya, saya tau anda sekarang sudah nyaris memutuskan untuk memindah kursor dan mencari halaman web yang berisi sesuatu yang lebih ‘bermutu’. Tapi plis, jangan lakukan itu dulu, atau anda akan menyesal (tepatnya menyesal karena tidak dari tadi anda memindah halaman web). Ahh, kok saya malah mengarahkan anda untuk pergi dari blog saya sih? Manajemen iklan saya buruk sekali! Maklum, saya bukan orang ekonomi sih, hehe. Tapi percayalah, ada sesuatu yang akan anda dapatkan jika anda berkenan untuk menyelesaikan membaca tulisan saya yang ganteng ini (orangnya, bukan tulisannya).

Jadi kembali pada mengekang. Mengapa orang itu mengekang? Biasanya jawaban yang paling sering muncul adalah karena orang itu sangat sayang kepada pasangannya. Tapi sebenarnya alasan yang paling kuat menurut saya adalah : karena orang itu tidak percaya. TIdak percaya di sini bukan sekedar tidak percaya pada pasangannya. Melainkan tidak percaya pada diri sendiri. Loh, kok sampe tidak percaya diri segala?

Ya, tidak percaya diri. Saya tidak salah ketik di sana. Dan anda tidak salah lihat. Kalau salah dengar sih mungkin. Jadi, maksudnya tidak percaya diri adalah dia tidak percaya pada dirinya sendiri apakah dia pantas untuk pasangannya atau tidak. Dia merasa dia terlalu hina untuk terus bersama pasangannya. Sehingga dia selalu takut pasangannya akan meninggalkan dia. Dia takut pelet yang dia berikan untuk pasangannya akan hilang jika tidak dia jaga. DIa takut pasangannya akan sadar bahwa selama ini sudah berada di jalan yang sesat. Dia takut pasangannya akan bertemu saya dan malah suka sama saya (perasaan pasangannya belum tentu cewek ya? Bisa aja cowok. Masak ada cowok suka sama saya? Segitu gantengkah saya sampai cowok pun ada yang suka sama saya?) Dari ketakutan-ketakutannya itulah dia kemudian memutuskan untuk menjaga mati-matian pasangannya. Akhirnya, dia menjadi tidak sadar bahwa dia sudah masuk dalam jajaran ‘pengekang’.

Lalu bagaimana dengan pengekangan ini? Positifkah pengekangan ini dalam hubungan percintaan? Untuk menjawab pertanyaan itu akan saya tampilkan beberapa sampel dari cewek-cewek yang sedang dimabuk asmara ini. Yang pertama adalah cewek kecil berjilbab yang sudah berpacaran sejak SMA dan sudah menjalani hubungannya selama kurang lebih 3 tahun. Nama palsunya yang saya berikan adalah Setia. Alasannya jelas, karena saya ingin ngasi nama setia, itu saja (pasti pada ngiranya alesannya tuh karena dia orangnya setia ya?).

Bagi Setia, cowok overprotektif itu layaknya iblis bermuka jelek yang sudah bonyok karena ketauan nyopet di neraka (ini istilah saya sendiri), yang artinya : tidak suka sama sekali. Menurutnya, dia tidak akan tahan bila menjalani hubungan dengan cowok overprotektif yang sukanya tidur di kamar ibunya. Tepat sekali! Yang terakhir tidak nyambung.

Selain setia, saya juga punya teman cewek lain. Biasa, cowok ganteng harus punya banyak teman cewek, biar makin keliatan gantengnya. Sebut saja namanya ‘bunga’. Emm, tapi sepertinya nama bunga sudah terlalu sering dipakai untuk identitas-identitas rahasia seperti ini di koran-koran kriminal. Jadi sebaiknya diganti jadi ‘mawar’ saja. (lalu muncul mukanya yang item semua, plus suara compreng hasil editan audio, atau memang karena microphonenya rusak).

Jadi mawar ini adalah teman saya yang sudah beberapa kali pacaran. Dia baru saja putus dan sudah jadian lagi dalam selisih waktu sekitar sebulan lebih (lebih berapa bulannya saya kurang tahu, hehe). Cowoknya yang sekarang, menurutnya cukup over. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan mantannya yang terakhir yang terkesan acuh tak acuh.

Saat saya tanyai lebih suka yang mana, dia langsung menjawab lebih suka yang sekarang. Karena over justru menunjukan perhatian. Namun tidak disangkalnya, bahwa lama-lama dia juga tidak tahan jika cowoknya terlalu overprotektif (udah terlalu, pake over lagi, benar-benar bahasa yang tidak efektif). Baginya, cowok yang seperti itu justru terlihat seperti pagar betis (ternyata cewek juga suka ngliatin betis cowoknya ya? entahlah).

Bagi Mawar, kebebasan itu tetap diperlukan dalam sebuah hubungan. Yang penting adalah sama-sama saling jaga perasaan saja. Karena yang namanya cinta itu tidak pernah lepas dari yang namanya perasaan. Dan dia, lebih suka jika cowoknya ngomong cemburu secara terus terang. Entah apa alasannya dari itu. Mungkin cewek emang suka kalau cowoknya cemburu sama dia ya? Atau gimana? Wahai para cewek, jawablah pertanyaanku ini. Eits, yang tak suruh jawab tu para cewek, bukan banci. Banci cantik diem dulu ya,🙂

Selain kedua cewek itu, juga ada Miras. Emm, kenapa kesannya nama itu terlalu jelek ya? Seperti mengingatkan saya tentang hal yang buruk, tapi apa itu? Baiklah, karena saya tidak tahu, maka namanya tetap miras saja (dengan wajah dongo dan pura-pura gag tahu kalau itu berarti minuman keras).

Miras adalah adik kelas saya waktu SMA dulu. Dia cukup sering gonta-ganti pacar, namun sekarang hatinya sudah tertambat pada seorang cowok. Sudah satu tahun dia menjalani hubungan ini. Dia bilang pada saya kalau dia sangat mencintai cowoknya yang sekarang.

Lalu dia saya tanyai tentang pendapatnya mengenai cowok overprotektif. Jawabannya relatif sama dengan dua sampel yang di atas. Dia tidak suka!

Menurut Miraz, cowok itu cukup protektif saja terhadap pasangannya, tidak perlu over, apalagi over dosis, bisa game over entar. Dia mengibaratkan protektif itu seperti oli yang ada di mesin, lalu dengan molekul pintar langsung memeluk mesin dengan sigap. Baiklah, saya masih ngaco.

Pengibaratannya mengenai protektif adalah dibandingkan dengan pasir. Pasir itu jika digenggam terlalu erat akan jatuh, jika tidak digenggam akan jatuh juga. Makanya, kita harus menggenggam pasir biasa saja (kalau pada kasus tangan saya, pasir tetap akan jatuh meskipun digenggam dengan cara apapun. Soalnya tanganku halus dan licin, hoho). Jadi intinya, sayangilah aku. Lowh, gag nyambung! Intinya adalah, jangan terlalu over protektif dengan pasangan kita.

Miraz juga tidak tahan jika harus bersama cowok over. Baginya, mayoritas cewek akan berpikir begitu juga. Mungkin saja cowok yang over itu menandakan bahwa dia sayang banget sama pasangannya, tapi baginya, yang berlebihan itu tidak baik. Ada haditsnya juga (jadi teringat pelajaran pak Tarom waktu SMA dulu. Beliau membuat selebriti seperti saya harus rela antri berjam-jam seperti sate kambing untuk menyetor hapalan hadits yang sekarang saya sudah lupa semuanya).

Dari ketiga koresponden di atas (hoho, akhirnya saya bisa pakai bahasa asing juga di dalam tulisan saya) saya mendapati satu kesimpulan bahwa, cewek tidak suka cowok overprotektif. Masalah yang kemudian muncul adalah…

Si cantik menganggap saya cowok overprotektif!

Secara spesifik, saya tidak tahu alasannya. Tapi memang, saya sangat pencemburu. Saya tidak suka dia ngobrol dengan cowok lain. Saya tidak suka dia smsan dengan cowok lain. Saya tidak suka dia comment-comment an di FB dengan cowok lain. Bahkan, mungkin saya juga akan cemburu melihat dia ngobrol sama banci! (untungnya, dia takut dengan banci, jadi kecemburuan bodoh ini tidak ketahuan, hehe)

Mungkin hal-hal yang tersebut di ataslah yang mendasari anggapan si cantik. Dia merasa terkekang, terbelenggu, terpasung, terberangus, dan ter-ter yang lainnya. Dia menurut pada saya di depan, tapi dibelakang saya, dia tersiksa.
Untungnya, saya cepat menyadarinya. Sesaat setelah saya melakukan riset ini, saya langsung mengatakan pada hati saya, ‘saya harus berubah.’ Sulit memang, tapi bukan tidak mungkin. Saya mengawalinya dengan baik. Saya beri dia suatu kebebasan. Dia langsung memberi pesan singkat kepada temannya, ‘yee, mas ian ngebebasin aku!’ Sebuah kata yang melegakan, sekaligus membuat miris. Menunjukan betapa kuatnya paksaan yang selama ini telah kuberikan padanya. Sungguh, saya ingin menangis saat mengetahui dia mengatakan kata-kata itu. Tapi tentu saja, cowok gag boleh mewek. Apalagi cowok cakep, hoho.

Sekarang, hari ini, saya mencoba untuk menjadi pasangan yang lebih baik lagi. Saya tahu saya sangat beruntung mempunyai si cantik sebagai orang yang menyanyangiku. Dan seperti kata miraz, jika saya menggenggamnya terlalu erat, dia akan lari dariku. Meninggalkan aku sendiri dalam gelapnya jurang pengekangan. Membuatku sekali lagi menjadi mayat hidup yang bergerak menuju kuburannya sendiri.

Karena itulah, hati saya harus bertambah kuat. Karena konsekuensi logis (sejak Satria mengatakan ini di Laptri 3 lalu, saya selalu senang menggunakan kata-kata ini) dari memberi kebebasan adalah hati kita harus tahan. Tahan terhadap hal-hal yang mungkin bisa membuat kita sakit. Ya, semuanya bergantung dari hatiku, dan hatinya tentunya. Itu semua mengalir pada satu garis yang sama yaitu…

Kekuatan dari Allah SWT.

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s