Setitik Cahaya Ditengah Kegelapan Pasar Kembang


Masjid adalah tempat ibadah bagi kaum muslim yang sarat akan aroma kebaikan. Setiap masjid adalah rumah Allah. Sehingga yang namanya kemaksiatan Insya Allah akan jauh dari tempat itu. Bagi anda yang muslim, masjid jelas harus menjadi tempat favorit anda untuk berkeluh kesah terhadap Tuhan. Yang bisa menjadi masalah adalah, bagaimana dengan lingkungan masjid itu sendiri?

Kita tentu pernah mendengar sebuah anggapan yang mengatakan bahwa kebaikan dalam diri sesuatu haruslah dapat memberi kebaikan pada sesuatu lain di sekitarnya. Sehingga secara tak langsung, kita juga harus berharap pada masjid itu tadi. Masjid yang kita harapkan begitu sempurna dalam hal kebaikan. Tentunya juga harus memberi kebaikan terhadap lingkungan di sekitarnya.

Bermula dari hal-hal tersebut di ataslah, saya tertarik untuk berbagi tentang masjid yang satu ini. Masjid apakah itu? Masjid ini bernama masjid Nurul Huda Sosrowijayan. Masjid ini berada di Jogjakarta, sosrowijayan. Jika masih terasa asing, mungkin petunjuk ini dapat membantu anda. Letaknya dekat dengan daerah pasar kembang Jogjakarta yang terkenal dengan ‘barang dagangannya’. Bahkan, sebenarnya masih dalam satu kampung. Jadi, masjid Nurul Huda bisa disebut sebagai, ‘masjid yang terletak di daerah pasar kembang’. Atau mungkin bisa kita sebut dengan lebih alay seperti ini, ‘Rumah Allah ditengah rumah para ahli maksiat’.

Menurut saya, masjid Nurul Huda ini unik. Karena masjid ini berada ditengah-tengah kepungan kemaksiatan. Di dekatnya ada banyak penginapan kecil, yang tentunya merujuk pada tempat ‘melakukan itu’. Lalu juga ada bar yang isinya banyak mengandung minuman keras. Maklum, pelanggannya kebanyakan adalah bule yang suka minuman keras. Jadi, bisa anda bayangkan sendiri betapa maksiatnya tempat itu.
Namun, ditengah kepungan maksiat seperti itu, masjid Nurul Huda tetap dapat berdiri. Meskipun jama’ah sholatnya sendiri sangat sedikit. Untuk jama’ah putra masih ada belasan. Tapi untuk jema’ah putri hanya ada 2 orang saja. Seorang nenek dan seorang anak kecil, tidak ada wanita muda saat itu. Sekedar informasi, saat itu saya sholat maghrib sebelum melihat acara JJC. Dan hasil pengamatan saya adalah seperti itu.

Betapa mirisnya kondisi masjid Nurul Huda itu. Masjid itu seperti dikepung oleh penjahat-penjahat yang ingin menghabisinya. Siap untuk menggorok lehernya tanpa ampun. Kita patut bersyukur, masjid Nurul Huda Sosrowijayan masih dapat berdiri sampai sekarang. Bahkan, ditengah kondisi external yang miris itu, kondisi internalnya justru sangat luar biasa. Di dalam masjid itu terdapat hiasan-hiasan hebat seperti petunjuk sholat dan papan informasi. Tempat wudhunya pun bersih, tanda perawatan yang nyata. Audionya juga hebat. Itu semua membuktikan bahwa masjid Nurul Huda bukanlah masjid yang ditelantarkan.

Masyarakat Sosrowijayan masih mencintai masjid itu. Mungkin tidak seharusnya kita terus menerus menghakimi bahwa semua masyrakat pasar kembang itu tidak punya moral.

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s