Jangan Sia-siakan Hidupmu Untuk Iri

Seringkali manusia di dunia ini hanya menghabiskan waktunya untuk ber iri dengki saja. Itulah kalimat yang cukup terngiang oleh saya setelah sholat Jum’at pada tanggal 29 oktober 2010 kemarin. Sebuah kalimat yang barangkali bagi sebagian orang hanyalah hal sepele. Atau bisa jadi sebagian orang yang lainnya malah sudah terlalu sering mendengar kalimat itu. Hingga akhirnya kalimat itu menjadi sebuah hal yang biasa untuk didengar tanpa ada tela’ah yang lebih mendalam tentangnya. Namun, di lain pihak, pasti juga ada orang yang sangat tersentuh dengan kalimat itu. Kalimat yang singkat, bahasa yang simpel, dan bisa jadi langsung dimengerti oleh setiap orang yang mendengarnya. Memang begitulah adanya.

Bagi saya sendiri, mungkin kalimat itu bisa menjadi intropeksi diri saya sendiri. Tentang betapa hati ini begitu mudahnya merasakan iri dengki. Betapa mudahnya kepala ini terus memikirkan iri dengki tanpa melihat hal-hal positif yang ada disekelilingnya. Memfokuskan semua harapan pada hal-hal yang tidak saya miliki. Itulah masalah dalam diri saya yang berkenaan dengan iri dengki ini.

Dan mungkin, sampai sekarang hal itu belum dapat saya atasi.

Saya sadar, terkadang perasaan dengki di dalam diri saya tumbuh begitu besarnya. Seiring dengan kesadaran saya tentang betapa banyaknya hal yang tidak saya miliki. Kekayaan, ketampanan, kepintaran, semua terasa tidak sempurna bagi saya.

Entah mengapa, saya merasa bahwa kekurangan-kekurangan itu terus meggerogoti hidup saya. Merasa bahwa jika tidak ada kekurangan itu, maka hidup saya akan lebih sempurna dari sekarang. Merasa bahwa kekurangan itu adalah alasan saya tetap terhenti di tempat yang penuh dengan kubangan lumpur seperti sekarang. Merasa bahwa saya tidak pantas mendapatkan kekurangan itu, dan hanya orang lain yang pantas. Saya beranggapan bahwa ini semua tidak adil.
Kekurangan ini seharusnya menjadi milik orang lain, dan kelebihan mereka seharusnya adalah untuk saya.

Memang, saat kita terperangkap pada perasaan iri dengki, akan timbul berbagai hal-hal negatif yang tidak kita sadari. Bisa saja kita jadi selalu berangan-angan tentang diri kita yang tidak memiliki kekurangan. Membayangkan dunia kita yang lebih cerah dengan hilangnya kekurangan yang sekarang kita miliki. Dunia di mana orang lain selalu tersenyum kepada kita. Mengelu-elukan nama kita. Menjunjung diri kita selayaknya apa yang selama ini kita selalu impikan. Sungguh nikmat sekali.

Celakanya, kenikmatan itu sangat memberi efek ketagihan. Celakanya lagi, kita tidak sadar akan ketagihan itu.

Hasil akhir dari kebiasaan itu adalah, kita akan membenamkan diri dalam kebiasaan menyia-nyiakan waktu. Membuat kehidupan nyata menjadi sangat berat, dan terus berharap ada di dalam dunia bayangan kita. Membuat kita seakan-akan malas untuk hidup. Malas untuk memberikan manfaat kepada orang lain secara nyata. Hasilnya, hidup kita tidak bermanfaat. Baik untuk orang lain maupun diri sendiri.

Seorang teman saya di kos pernah berkata kepada saya, ‘Hidup adalah sebuah nikmat untuk disyukuri, bukan sebuah masalah untuk dipecahkan.’ Lagi-lagi, sebuah kalimat sederhana yang begitu tepat menuju hati saya. Sedikit menyadarkan saya tentang kerdilnya pemikiran saya selama ini.

Mengapa saya tidak menyadarinya? Bahwa kenyataan saya hidup saat ini, adalah sebuah anugerah? Ke mana otak saya yang dahsyat itu selama ini. Mengapa dia membiarkan saya terlempar jauh dari kenyataan selama ini?

Lagi-lagi saya terjebak dalam pemikiran sempit. Menyalahkan otak saya sendiri. Untungnya kali ini saya segera tersadar. Bahwa selama ini yang menghalangi jalan saya untuk maju adalah : DIRI SAYA SENDIRI!

Konyol memang, bagaimana mungkin seorang manusia dengan mimpi yang begitu tinggi bisa menghambat dirinya sendiri untuk maju. Namun, semua jadi terasa rasional jika dikaitkan dengan permasalahan awal tadi : iri.

Sekaranglah saatnya saya sadar, bahwa saya harus menghilangkan sifat iri saya ini. Menghilangkan kecemburuan saya terhadap dunia yang begitu sempurna milik orang lain. Dan fokus pada rencana memperbaiki diri saya sendiri. Jika saya berhasil mencapai level itu dengan benar, maka saya yakin, Tuhan pun akan tersenyum kepada saya. Hingga akhirnya, Dia akan membukakan pintu rezekinya untuk kemalangan saya. Menunjukan kepada saya, siapa yang berkuasan di dunia ini. Di dunia saya.

Pertanyaan terakhir yang tidak bisa saya jawab adalah, bagaimana dengan anda? Seperti kata sahabat saya dari Solo, ‘jawablah pertanyaan itu dengan hati kalian masing-masing’.

1 Komentar

Filed under Freedom to speak

One response to “Jangan Sia-siakan Hidupmu Untuk Iri

  1. Tuhan selalu membantu setiap saat, termasuk membersihkan sifat2 yg negatif di diri kita, cuma kitanya yg slalu memeluk erat sifat negatif tsb, shg sifat2 tsb smakin mengakar di dalam diri kita, hanya dg membuka hati kpd Tuhan sajalah berbagai sifat negatif bisa dibersihkan, salam kenal🙂

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s