Lapangan Barat : 20 Gol

Wow, akhirnya hari ini saya dapat pulang ke Solo juga. Setelah lebih dari dua minggu tidak pulang karena berbagai kesibukan yang saya buat-buat sendiri. Kini saya dapat dengan lega menatap rumah saya, -yang sudah terancam- untuk kemudian menikmati teduhya hawa di dalam kamar saya. Yang sayangnya penuh dengan aroma baju kotor kakak cowok saya. Walaupun aroma baju kotor saya juga tidak beda jauh. Ibaratnya, kalau kakak saya aroma kulit kambing, maka saya aroma strawberry segar yang siap dipetik dan dimakan. (beda banget yak?)

Tanpa kusangka, Mbak Fina, -kakak cewek saya yang nyaris cantik kalau saja dia lebih sering memberi saya permen waktu kecil dulu- alih-alih memberi ciuman di kening sebagai sambutan, dia malah langsung mencarikan saya pekerjaan (baca : menyuruh). Mungkin baginya pulangnya saya terasa seperti dapat pembantu pulang kampung. Memang, dengan wajah indo seperti ini saya terkesan seperti TKI yang baru pulang kampung dari Italia. Dan tugas yang dia berikan kepada saya adalah untuk mengantar sebuah pesan berharga -yang sangat rahasia yang nantinya akan dibagikan kepada semua orang yang namanya tertulis disitu- kepada seorang tetangga yang tinggal di ujung paling barat di gang rumah saya. Ralat, maksudnya rumah Ibu saya.

Okey, mengapa tidak? Toh saya juga tidak ada kerjaan, pelanggan juga sedang pada pergi ke luar kota, jadi pelayanan gratis bisa dimaklumi. Saya pun berjalan dengan penuh percaya diri dengan wajah ganteng saya ke arah barat gang rumah Ibu saya.

Dalam perjalanan itu saya menyadari sesuatu.

Bahwa ternyata, saya sudah sangat lama, mungkin hampir setahun tidak pernah berjalan di area itu lagi. Padahal, waktu saya lahir sampai dengan saya SMA, area itu adalah area yang paling sering saya datangi selama hidup saya. Banyak sekali kenangan di situ. Terutama dalam hal olah raga sore yang membantu saya mendapatkan tubuh sexi ini.
Timingnya sangat tepat sekali, saya tiba-tiba terkenang masa lalu dan kemarin malam saya baru saja membaca buku dari Raditya Dhika. Dua hal itu menggoda saya untuk berceloteh dan berdongeng tentang masa kecil saya yang suram. Lebih suram dari masa depan cacing yang menderita kebutaan total. Tapi dari masa lalu yang suram itu kemudian memunculkan sebuah sosok bermasa kini yang keren dan masa depan yang menjanjikan.

Jadi, dulunya di bagian barat gang rumah Ibu saya itu adalah tempat favorit bagi warga perumahan saya untuk bermain sepak bola. Sebuah lapangan yang sangat modern, di mana ada satu selokan ber air eksotis yang memanjang di sepanjang bagian timur lapangan. Di tambah dengan tanaman milik tetangga yang sebenarnnya dirawat dengan baik sebelum kita jadikan medan perang untuk kekejaman kaki-kaki telanjang kita. Plus, sederet batu bulat besar dan keras (tentunya) yang ada disepanjang tengah lapangan yang siap untuk kita nikmati dalam setiap kuku jari yang patah karena bersinggungan dengan batu indah itu. Benar-benar sebuah lapangan level internasional bukan? Ingat, saya belum menceritakan tentang keadaan belakang gawang yang apabila gol, diperlukan waktu sekitar satu masa kehidupan amoeba untuk memungut bolanya. (sumpah, jauh banget!)

Nah, di dalam pertandingan akbar itu, saya sering kali membuat sebuah catatan kecil tentang jumlah gol saya dalam pertandingan itu. Aneh? Memang! Saya, ingat dulu pernah membuat target mencetak 20 gol dalam 7 pertandingan atau satu minggu. Sebuah target yang konyol mengingat pertandingan biasanya berakhir dengan skor mirip bola basket level SMA, yaitu sekitar angka 20an sampai 30an. Sementara pemain yang bermain paling Cuma lima orang masing-masing tim. Plus, saya termasuk orang dewasa di situ, di mana kebanyakan pemainnya lebih muda, lebih kecil, dan lebih tidak berani dibanding saya. Konyolnya lagi, dengan target serendah itu, saya tetap tidak bisa mencapainya. Payah!

Tapi kalau sekarang, saya bisa berdalih bahwa di satu minggu itu saya lebih banyak beroperasi sebagai kiper. Sudah pasti sulit mencetak gol kan? Sebenarnya cukup mudah juga, soalnya lapangan tidak terlalu besar juga. Goal kick juga sering langsung gol, tapi tendangan saya tidak sekuat itu. Lebih tepatnya, penglihatan saya tidak sampai ke gawang lawan.

Meskipun begitu, tetap saja saya adalah predator yang berbahaya bagi gawang….

Tim saya sendiri! Saya cukup sering membuat gol bunuh diri. Yah, walaupun gol bunuh diri yang saya buat cukup berkelas, tetap saja itu gol bunuh diri. Yang terlihat hanyalah kebodohan dari seorang lelaki berwajah ganteng, itu saja.

Akan tetapi, secara keseluruhan, bermain sepak bola disana sangatlah menyenangkan.

Apalagi jika dibandingkan dengan permainan yang juga sempat kita mainkan bersama sama di tempat yang sama. Namun permainan itu puluhan kali lebih brutal. Sangat brutal, hingga nyaris membuat mata indah saya mengalami kebutaan dan kehilangan kegantengan seumur hidup. Apakah permainan itu? Well, tunggu postingan saya berikutnya ya, Insya Allah akan menjawab pertanyaan itu. Hehe….
(sekarang tinggal klik di tulisan masa kecil saya ini)

Solo, 20 Juli 2010

2 Komentar

Filed under Gag jelas, Sehari-hari

2 responses to “Lapangan Barat : 20 Gol

  1. Ping-balik: “TTPPIPPBBYBJKBVKIHPKAMBBT” « ian bood

  2. Ping-balik: Ingin Kembali Ke SD | ian bood

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s