UN dan Si Polemik

Huft, akhirnya saya berani juga untuk menuliskan hal yang sudah saya pendam sejak kemarin. Setelah menonton semifinal Liga Champion antara Barcelona dan Internazionale Milan yang akhirnya dimenangi oleh Internazionale ( yang lumayan membuat saya senang, yeah!) dan juga sekalian melaksanakan ibadah sholat Subuh ( semoga aja gag ada ria’ dari ini ), akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan sebuah karangan bebas atau apalah namanya ini. Sejujurnya, saya tidak begitu tau tentang kadar kepentingan isu yang saya angkat ini. Tapi saya merasa akan cukup fun juga jika mencoba membiarkan dunia tahu tentang pandangan saya. ( padahal yang baca palingan kurang dari seper satu milyar dari seluruh manusia yang ada di bumi )

Oke oke oke, cukup sudah curhatnya, gag penting juga. Walaupun mungkin untuk sebagian besar fan saya hal itu cukup penting.🙂 CUKUP! Sekarang saya benar-benar akan masuk ke dalam intinya. Maksudnya pembukaan dari inti karangan ini, sebelum nanti masuk ke inti yang lebih inti dari inti yang akan saya masuki. Hmm, berhenti menyebut kata inti di sini, sebelum nanti akan merusak inti yang coba saya bangun dalam inti karangan ini. Ahh!! Masih saja ada kata inti! Stop please!!

Yah, sekarang saya sudah benar-benar berwajah serius dan siap memulainya. Dan yang akan saya coba kemukakan di sini adalah ketakjuban saya melihat dinamika yang ada di dalam Ujian Nasional SMA yang baru saja diumumkan hasilnya pada senin ( 26/4 ) kemarin. Di mana sejak awal hal itu sudah menjadi kontroversial yang sangat panjang dan benar-benar menguras tenaga setiap elemen yang ada di dalam dunia pendidikan. Mulai dari Menteri Pendidikan, Kepala Sekolah, guru, murid, sampai juga penjaga sekolah dan ibu penjual di kantin sekolah (mungkin).

Pasalnya, sudah sejak lama UN ini menjadi masalah yang disoroti terkait kelayakannya sebagai indikator kelulusan. Sorotan yang ada pun bisa dari berbagai sisi dan juga pose. Misalnya ada yang menyoroti dari adanya UN itu sendiri. Ada yang menganggap UN yang hanya 3-4 hari tidak bisa merepresentasikan pendidikan apa yang sudah didapat waktu sekolah. Dan hal itu jelas tidak layak dianggap sebagai indikator kelayakan. Berbagai polemik terus berputar di situ, bahkan mungkin sampai si polemik itu jadi pusing sendiri karena terlalu lama berputar di situ. Hingga akhirnya, seperti yang kita lihat sekarang, UN itu tetap dijalankan dan dianggap sebagai indikator kelulusan siswa.

Tidak selesai sampai di situ, kembali lagi si polemik datang dan dengan kepala yang sudah pusing mencoba untuk mengitari masalah UN lagi. Kali ini tentang pelaksanaan UN sendiri yang banyak diragukan hasilnya. Banyak pihak, -terutama saya sebagai bekas murid yang mengalami sendiri- meragukan kejujuran para siswa dalam mengerjakan UN. Buuuanyak sekali ( tiga huruf U disitu bukan salah ketik, malah tadinya saya berencana mau pake tombol caps lock, tapi karena susah ketemu ya sudah kayag gitu aja ) indikator kecurangan yang terdapat dalam UN. Bahkan sampai ada yang membisniskan hal ini dengan menjual bocoran jawaban dengan harga yang lebih mahal dari kaca mata saya. Bayangkan saja, padahal kaca mata saya ini untuk membelinya perlu nabung dua tahun! Ehm, oke, jangan dibayangkan nabungnya, tapi dibayangkan betapa mahalnya harga bocoran jawaban itu. Parah bukan?? Dan sampai sini, polemik masih terus berputar, hingga akhirnya dia tidak kuat dan pergi sejenak dari situ untuk pamit muntah sebentar.

Eh, belum selesai polemik membuang semua ampasnya, UN kembali memanggilnya untuk diitari. Kali ini tentang pengaruh dan mungkin juga paradigma dari pengaruh dari UN itu yang jadi masalah, dan harus diitari oleh polemik yang sebenarnya sudah nyaris pingsan. Ya, pengaruh dari UN sangatlah besar bagi masyarakat, terutama bagi psikologis si anak. Bayangkan saja, hanya gara-gara tidak lulus banyak yang nekat ingin mengakhiri hidupnya! Ada sebuah kasus di mana siswa nyaris mati gara-gara meminum pewangi baju setelah tahu dirinya tidak lulus. Tapi ada kemungkinan dia tidak mencoba bunuh diri sih, melainkan hanya ingin membuat nafasnya jadi wangi aja. Atau ada juga siswa yang merasa hidupnya sudah benar-benar di ambang kesuksesan hanya karena lulus UN! Dan ternyata, masih ada banyak masalah lain lagi yang kemudian mencoba mendatangi UN. Tapi karena si polemik udah keburu pingsan karena tidak kuat terus-terusan memutari UN, maka kita bahas tiga masalah ini saja dulu. Tapi sebelumnya, saya antar si polemik ke kasur dulu ya, dia pingsannya ngorok! Sangat mengganggu! Percayalah, anda tidak akan mau mendengar suara dengkurannya! Emang ada pingsan ngorok???

Oke, kita sudah aman dari si polemik, now back to the track!

Nah, dari masalah yang pertama akan saya coba bahas. Jadi jika kita ingin melihat apakan UN itu pantas menjadi indikator dari kelulusan seorang siswa, saya ingin katakan bahwa sebenarnya hal itu cukup sulit juga. Kita tidak bisa langsung mengatakan ya atau tidak. Jika kita ingin mengatakan tidak misalnya, lalu apakah ada cara yang lebih baik? Dengan sistem seperti kuliah? Serius? Yakin? Gag Bo’ong? Gag nyesel? Coba ditela’ah lagi deh.

Sistem seperti kuliah di mana yang menentukan kelulusan adalah guru/dosen sebenarnya memang cukup bisa dijadikan opsi. Tapi masalahnya, sudah kenalkah anda dengan semua guru di SMA/SMK/STM/MA/(apa lagi ya?) yang ada di Indonesia ini? Lalu, apakah semua memiliki sertifikasi yang pantas? Di daerah Jawa mungkin masih sedikit bisa, tapi bagaimana di pulau lain? Apakah nantinya juga akan adil. Jadi, jika anda tanya menurut saya, maka UN masih menjadi pilihan tepat untuk saat ini, setidaknya sampai guru-guru yang ada di Indonesia sudah selevel dosen pada tahun 2290 nanti. Kelamaan? Mari sama-sama kita percepat. Caranya? Saya ingin memberi tahu sebuah cara yang luar biasa tepat dan revolusioner sebenarnya, tapi karena takut nanti akan dianggap sok pintar, maka saya simpan saja dulu idenya. Setidaknya samapi saya benar-benar tahu cara itu apa. Atau minimal bayangannya lah, karena sekarang masih blank, hhe.

Lalu kemudian mengenai kejujuran. Siapa yang selalu dituntut di sini? Saya yakin pasti guru SD yang jadi sasarannya. Mereka selalu dituntut untuk sudah menanamkan nilai-nilai kejujuran sejak kecil pada siswa. Yang artinya harus juga memberitahu apa yang tidak boleh siswa lakukan dalam ujian, yang ternyata malah justru terekam oleh para siswa (pengalaman pribadi). Namun masalahnya adalah, apakah guru SD itu dulu lulus dengan cara yang jujur? Eits, jangan tanya saya, saya tidak tahu jawabnya. Kapan-kapan deh, kalau bertemu Tuhan ( amin, setelah meninggal lalu masuk surga dan bertemu Tuhan adalah anugerah yang diinginkan ssetiap muslim termasuk saya juga.) akan saya tanyakan. Karena hal seperti itu hanya Tuhan yang tahu.

Dan kemudian pengaruh kelulusan? Come on! Jalan hidup kita tidak ditentukan oleh kelulusan yang hanya sesaat seperti itu! Mungkin anda berpikir, “Yah, mana bisa kamu berempati kepada orang yang gag lulus, hla wong kamu aja belum pernah gag lulus kok.” Tapi saya tegaskan, saya punya teman yang tidak lulus juga! Kemudian dia tetap tegar dan mencoba mencari kuliah yang bisa menerimanya, lalu pada tahun berikutnya dia ikut UN lagi dan kemudian lulus. Bandingkan dengan teman saya lainnya yang sudah lulus dan kemudian sudah berkuliah. Lalu dia merasa tidak nyaman dan berganti jurusan, yang artinya harus mengulang lagi satu tahun kuliahnya. Anda bisa melihat perbedaan yang signifikan dari kedua teman saya ini? Saya sih tidak. Keduanya sama-sama mengulang satu tahun lagi untuk kuliah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, ada teman saya yang lulus SMA, lalu kuliah, lalu di DO dan sekarang malah merintis usaha sendiri dan sepertinya sukses walaupun belum sempat mentraktir saya makan di GM. So, adakah fungsi ijazah SMA baginya? Mungkin ada, tapi mungkin juga tidak ada (yang ini saya belum sempat tanyakan ke yang bersangkutan, mungkin kalau ada waktu akan saya tanyakan, tapi gag janji!).

Jadi semudah itu kan masalah yang ada di sekitar UN? Saya gunakan kata ‘masalah’ karena si polemik masih belum siuman juga dari pingsannya. Eh, ada yang protes? Kenapa? Maaf, saya kurang dengar. Oh, oke, sekarang sudah kedengaran. Jadi anda pikir saya sama sekali tidak menjawab apapun di sini? Yah, mungkin memang begitu sih. Tapi setidaknya saya jadi sedikit membuka mata anda bukan tentang masalah-masalah yang mungkin menghinggapi UN? Jadi anda bisa terbangun dari zona aman anda sekarang juga. Dan mari bersama-sama kita hadapi polemik yang ada di UN. Yapz, seperti yang anda duga, polemik sudah sadar dari pingsannya dan siap untuk mengitari berbagai macam hal yang ada di seputar UN lagi, terutama tentang Ujian Ulang nantinya. Lets see…

Semoga bermanfaat.🙂

1 Komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan

One response to “UN dan Si Polemik

  1. ngaku_nama_ian_dan_mau_pinjem_kaset_mp3

    apik nok donk tulisanmuu.. lanjutkan menulis disini. bakat ketoke. ndang mengikuti jejak bang ipin ki. sing penting jolali makan2e…haha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s