Cerpen Jatu Cinta

Entah mengapa, pada pukul 00.02 WIB hari sabtu (17/4) kemarin, saya tiba-tiba terbangun da merasa mendapat sebuah inspirasi untuk menulis cerpen. Dan akhirnya, jadilah cerpen ini. Inspirasi saya tiba-tiba terasa mengalir begitu mudahnya, yah, walaupun akhirnya jadinya hanya sebatas itu karya yang tercipta. Namun, secara overall saya cukup puas kok!!🙂
O iyaw, sebelum anda membacanya, saya tekankan bahwa ini hanyalah fiktif belaka, kesamaan nama tokoh dan tempat adalah ketidak sengajaan, atau juga sedikit sengaja, hehe…

Jatu Cinta


Pertengahan April 2010
Aku masih tak percaya dengan apa yang kualami dalam dua bulan ini. Semuanya terasa seperti mimpi bagiku. Mimpi yang terlalu indah dan menawan hingga aku merasa tak ingin terbangun dari semua ini. Tetap terlelap dan berada dalam bayang-bayang yang menyejukkan diriku ini. Namun bagian yang paling kusuka dari semua ini adalah, aku tidak bermimpi! Ini semua nyata! Kenyataan yang indah bahwa aku telah memiliki kamu sekarang. Sehingga kekosongan hatiku yang telah berdebu ini menjadi terisi sekarang. Memberikan warna baru dalam hidupku. Memberikanku alasan untuk terus maju dalam setiap deru nafasku. Membuatku selalu tersenyum saat menghadapi masalah. Ya, itu cuma karena kamu, sayangku.

Kupandangi tulisan yang kubuat untuk pacarku ini lekat-lekat. Rencananya tulisan ini akan kukirim via message di facebook. Cuma ingin dia tahu saja sih. Bukan untuk alasan yang lain. Bagiku, sudah cukup jika dia tahu betapa senangnya perasaanku sekarang. Aku tidak menginginkan balasan apapun darinya. Semua yang diberikan olehnya padaku selama ini sudah lebih dari cukup. Senyum manisnya, tawa renyahnya, perhatiannya, dan juga wajah cantiknya, sudah membuatku senang.
Namanya adalah Jatu. Sebuah nama yang aneh dan unik. Saat aku tanya padanya tentang arti dari kata itu, dia memberi jawaban yang kurang jelas juga. Dia bilang bahwa artinya adalah lahir di Jawa dan anak kesatu. Sehingga kemudian menjadi Jatu. Ibunya berdarah Jambi dan ayahnya asli dari Jogja. Sebuah percampuran darah yang unik. Namun kenyataannya menghasilkan sebuah maha karya yang sungguh cantik dan elok. Kulitnya cukup putih, walaupun jika di dalam foto jadi terlihat lebih hitam. Tubuhnya kurus namun tidak kerempeng. Telinganya panjang seperti tokoh peri-peri hutan dalam beberapa cerita dongeng. Di bawah mata kanannya, ada sebuah bintik kecil seperti tahi lalat (atau mungin jerawat), namun justru menambah indah wajahnya. Dan walaupun tidak memiliki lesung pipi, namun aku bisa jamin setiap mata yang memandang akan terpesona begitu melihat senyumnya yang manis dan tanpa beban. Membuat aku selalu ingin menjaga agar senyum itu selalu tersimpul dari wajah dan hatinya.
Walaupun begitu, sebenarnya aku sendiri masih belum yakin seratus persen dengan hubungan ini. Pasalnya, jauh di lubuk hatinya aku sadar bahwa dia masih mencintai orang lain. Memang, dia sudah menyatakan bahwa dia merasa sayang padaku. Namun, tetap saja, aku tidak yakin seseorang bisa melupakan orang yang dicintainya dengan sangat tulus semudah itu. Aku sadar itu, aku hanya tidak pernah membahasnya dengan dia. Karena aku sendiri tidak suka jika harus membahas cowok lain dengan dia. Karena saat bersamanya, aku serasa hanya ingin mengobrol tentang kita saja, tanpa ada yang lain. Walaupun aku juga harus sadar, bahwa sikap egois seperti itu sangatlah tidak baik. Sehingga seringkali kutekan egoku demi hubungan kita.
Meskipun aku belum yakin seratus persen dengan hubungan ini, tetap saja aku mempunyai harapan yang tinggi setinggi bulan yang mengitari planet saturnus. Bahwa suatu saat kita akan bisa sampai pada hubungan yang lebih kuat. Saling cinta, saling sayang, saling percaya, dan juga saling memuja. Karena jujur saja, prosesku untuk mendapatkan dia juga tidak mudah. Semua berjalan begitu alot dalam satu bulan sebelum aku menembak dia.
***
Awal Januari 2010
Aku duduk di atas sepeda motorku yang memang sengaja kubawa dari kota asalku ini. Di depan sebuah warnet yang memang sudah dijanjikan oleh dia, aku perintahkan tubuhku untuk menunggu. Walaupun rasanya masih cukup malas. Maklum saja, sekarang masih sangatlah pagi. Bisa dibilang, nyawaku baru setengah yang sudah masuk ke dalam tubuhku. Sedang yang setengahnya lagi, berkelana entah kemana. Atau mungkin malah masih tertinggal di tempat tidur dan menjadi wakilku untuk melanjutkan kegiatan tidurku yang sempat tertunda tadi.
Ya, hari ini aku menunggu Jatu untuk mengantarnya ke sekolah. Sekaligus juga menjadi ajang pertemuanku yang pertama dengannya. Jujur saja, aku merasa tidak terlalu bersemangat untuk hal ini. Walaupun aku yang menawarinya, namun sebenarnya aku cukup setengah hati melakukannya. Ada beberapa alasan yang membuatku malas untuk melakukannya.
Yang pertama, saat pertama kali aku sms-an dengan dia dulu, dia sudah curhat panjang lebar perihal cowok yang disukainya. Jelas saja aku langsung ilfiil dan merasa malas untuk melanjutkan hubungan dengan dia. Walaupun secara perasaan, aku merasakan rasa simpati padanya. Dan ditambah lagi, saat aku sms-an dengan dia yang kedua kalinya, lagi-lagi dia curhat perihal cowok! Semakin membuat aku kesal saja. Memangnya dia anggap aku ini apa? Tempat sampah yang belum dispesialisasikan sehingga semua jenis sampah bisa dibuang di situ??
Lalu yang kedua, jujur saja aku tidak begitu suka melihat dirinya di dalam foto. Menurutku dia tidak terlalu cantik juga. Sangat biasa dan terkesan sangat mirip anak kecil. Benar-benar bukan tipeku. Dan caranya tersenyum di dalam foto juga sangat aneh. Tidak bisa dibilang menarik.
Tapi anehnya, aku merasa bahwa aku harus mengantarkannya sekolah saat itu juga. Entah mengapa perasaan itu begitu kuat menyuruhku melakukan hal bodoh ini. Tubuhku seakan terasa ringan walaupun otakku terus mengatakan malas. Seakan-akan hatiku yang mengambil alih tubuhku dan membuang otakku di pinggir kamar mandi kosku. Aku terus merasa bahwa aku akan menyesal jika melewatkan ini.
Aku masih asik mengobrol dengan diriku sendiri ketika tiba-tiba kulihat sesosok wanita kecil berseragam dan berjilbab keluar dari sebuah gang di situ. Kupandangi dia lekat-lekat. Dan tanpa kusadari kubiarkan pikiranku berkata, CANTIK! Itu lah yang pertama kali kupikirkan saat pertama kali bertemu dia. Aku masih belum begitu yakin apakah wanita itu dia, tapi saat melihat tikar yang dibawanya, aku yakin seratus persen. Pasalnya, kemarin dia bilang dia akan membawa tikar.
Kuarahkan motor kesayanganku maju menuju kearahnya. Kemudian dengan berusaha mengeluarkan senyum termanisku kucoba untuk menyapanya. “Kamu Jatu ya?” Dengan wajah semanis mungkin tentunya.
“Iya.” Jawabnya lirih, sambil membalas dengan senyuman yang subhanallah sangat manis sekali.
Dan tanpa ba-bi-bu lagi langsung kupersilahkan dia naik ke motorku dan memintanya untuk mengarahkan jalan ke Sekolahnya.
Di sepanjang perjalanan pun, aku cukup gugup. Kucoba untuk tetap mengobrol dengannya meskipun begitu. Aku jelas saja tidak ingin memberikan kesan pertama yang menunjukan bahwa aku adalah pria polos yang mudah gugup jika berhadapan dengan wanita cantik dan imut. Walaupun kenyataannya mungkin memang begitu.
Sesampainya di sekolah pun, saat dia mengucapkan terima kasih padaku, dia sumbangkan lagi sebuah senyum manis untukku. Sungguh sebuah vitamin di pagi hari yang benar-benar menyehatkan hati dan jiwa.
***
Awal Februari 2010
Hampir satu bulan sejak pertemuan pertama itu. Aku merasa semakin akrab dengannya. Dan aku semakin merasakan kecocokan dengan dia. Apalagi, belakangan ini dia sudah sangat jarang menceritakan cowok idamannya itu. Aku baru merasakan keasikan ngobrol dengannya sejak itu.
Namun walaupun begitu. Aku masih belum merasa jatuh cinta dengan dia. Ada beberapa wanita yang memang juga cukup dekat denganku dan mereka jomblo. Dan aku belum menentukan satu pun pilihanku pada siapa aku akan pedekate. Aku pakai istilah pedekate karena aku memang belum menjalin hubungan yang spesial dengan mereka. Semua cuma sebatas teman, dan jika aku sudah memutuskan pun, tidak ada jaminan sedikitpun bahwa aku akan diterima oleh mereka. Jadi semuanya masih serba absurd dan berada di balik peti misteri yang belum kutemukan kuncinya.
Namun ternyata, semua misteri itu dapat kutemukan jawabannya saat aku merayakan ulang tahunku yang kedua puluh pada bulan ini. Di mana pada saat itu, bisa dibilang aku memang sengaja membuat sebuah penilaian akhir dari siapa yang akan menjadi tergetku.
Dan tanpa ragu lagi, aku merasa bahwa Jatu lah yang harus kudapatkan. Alasannya cukup mudah sih. Dia adalah yang paling tahan dan paling banyak membalas SMSku pada malam itu. Namun tiba-tiba tepat pada pukul 00.00 dia mengirimiku sebuah pesan pendek yang berbunyi, “Selamat Ulang Tahun”. Dan seketika itu juga, aku merasa tulisan itu sudah masuk ke dalam hatiku merobek-robek semua perisai dan keraguan yang dulu kubangun untuk membantah bahwa aku mencintainya. Dan sejak saat itu pula, kutetapkan hatiku bahwa aku memang mencintainya. Menginginkan dia datang dalam setiap mimpiku dan juga nyataku.
***
Pertengahan Februari 2010
Walaupun aku sudah mendeklarasikan hatiku bahwa aku mencintainya dan ingin dia menjadi milikku. Namun bukan berarti dia dengan mudahnya kudapatkan. Perlu berbagai cara untuk mendekatinya dan memastikan bahwa dia juga menyukaiku. Dan keraguanku akan hal itu masih sangat besar menancap di otakku. Seperti sebuah pedang yang ditempa dengan besi yang ada di gunung olympus dan diberi sentuhan dewa yang terus-terusan merongrong bagian dari keberanianku untuk terus tertutup. Aku benar-benar tidak yakin. Apalagi jika teringat tentang Aryo.
Aryo adalah lelaki idaman Jatu. Dia memang lebih sempurna dibandingkan diriku secara fisik. Dia juga sudah kenal lama dengan Jatu dan jelas mempunyai kepribadian yang unik. Kepintaran juga sudah tidak perlu diragukan lagi. Dia baru saja diterima jadi PNS. Gaji yang besar dan jaminan dari pemerintah sudah menunggunya. Benar-benar sebuah manusia dengan level yang jauh di atasku yang masih belum lulus kuliah dan masih meminta uang orang tua ini. Mungkin satu-satunya keunggulanku darinya adalah kenyataan bahwa aku mencintai Jatu, sedang dia aku kurang tahu. Mungkin cinta, mungkin juga tidak. Hanya dia yang tahu, atau mungkin juga dia bahkan belum tahu. Tapi itu bukan urusanku.
Namun entah mendapat mukjizat dari mana, tiba-tiba saja pada hari itu, hari sabtu tanggal 13 Februari 2010. Aku merasa ada sebuah kekuatan aneh yang memaksaku untuk melakukannya. Melakukan hal yang aku sendiri saat itu benar-benar tidak yakin. Kuajak dia bicara empat mata di sebuah tempat yang sepi namun tanpa ada niat mesum tentunya.
“Jat, kamu ngrasa kita tuh uda deket belum?” Tanyaku sambil mencoba memandangi dia dan matanya yang indah.
“Ya tergantung, kalo sekarang ya emang deket. Tapi ntar kalo mas udah pulang ya jadi jauh lagi, soalnya kan kos mas emang jauh, hehe…” Jawabnya dengan penuh canda dan tidak serius, membuatku jengkel saja.
“Ah, serius nih…” Kataku sedikit membentak, mencoba menunjukan kejengkelanku.
“Hehe, iya deket kok, emang kenapa mas?” Dia balik bertanya padaku.
“Hmm, sebenarnya beberapa waktu ini aku juga ngerasa kita udah deket. Tapi tiba-tiba saja aku ngerasa ingin supaya kita lebih deket lagi. Aku yakin kamu tahu apa artinya itu.” Ujarku sembari menunggu respon balik darinya.
Sempat terdiam cukup lama, akhirnya dia buka suara. “Sejak kapan ngerasa kayag gitu?” Tanyanya.
“Ya mana ku tau, kayag dokter aja, tanya-tanya begituan, haha…” Balasku dengan sedikit bercanda mencoba untuk sedikit mengusir kekakuan yang mulai melanda kami berdua.
“Emang pengen jadi dokter,weekk!!” Balasnya dengan menjulurkan lidahnya yang seksi. “Yang tadi itu juga Cuma bercanda kan?” Tambahnya.
“Enggak, kamu isa lihat mataku sekarang dan kamu bakal sadar betapa seriusnya aku.” Kataku dengan membuat sebuah tatapan mata super serius yang mungkin juga bakal terlihat seperti preman yang menantang orang asing yang lewat di daerah kekuasaannya.
“Hmm, mungkin emang serius ya…” Katanya sambil menggumam. Masih sedikit shock mungkin
“Yupz, aku serius. Jadi bagaimana pendapatmu mengenai hal itu?”
Dan kemudian aku mendengar kata-kata yang seumur hidup tak akan pernah kulupakan dan akan selalu menempati ruang VIP di hatiku. “Iye, aku mau…” Katanya dengan pelan namun menelusup dengan sukses dan membunyikan gendang telingaku.
Sebuah kata singkat yang menggetarkan hatiku. Seakan-akan jika saat itu aku di rumah, aku akan langsung berlari dari ruangan TV rumahku yang ada di lantai 1 menuju kamar kakak perempuanku yang ada di lantai 2. Dan kemudian berteriak keras-keras di kamar itu seperti orang gila yang kehilangan pakaiannya. Atau andaikata jawaban itu kudapat melalui SMS aku akan langsung meneleponnya dan menanyakan tentang keseriusannya dan kemudian lagi-lagi berteriak kegirangan. Benar-benar sebuah kata sakti bagiku.
Dan akhirnya setelah saat itu, kami resmi pacaran. Walaupun aku tahu, aku sama sekali belum ada di hatinya.
***
Pertengahan April 2010
Dan akhirnya, setelah berminggu-minggu mulai mempertanyakan tentang hubungan ini. Karena dia tak kunjung mengatakan bahwa dia mencintaiku dan itu membuatku jengah. Aku akhirnya semakin yakin pada dirinya. Kepercayaan yang dulu masih kusangsikan kini mulai tumbuh dan membiarkanku merasa bebas. Rasa sayang itu terus menimbun di dalam diriku dan terus berkembang menjadi sebuah bakteri baik yang mulai melawan virus-virus yang mungkin merapuhkan keyakinanku padanya.
Semua menjadi semakin indah saat dia dengan jelas mengatakan bahwa dia menyanyangiku. Dan saat aku tanya mengapa tidak mengatakan cinta, dia mengatakan sebuah kalimat yang menurutku sangat indah.
“Kalo kata temenku ya mas, rasa cinta itu mudah hilang, sedang rasa sayang lama ilangnya, atau bahkan gag akan ilang sama sekali.”
Sebuah kalimat yang akan terus kucamkan dalam hatiku. Mengakar kuat di setiap pembuluh darahku. Mengalir bersama darahku. Membatu dan menjadi tulangku. Menguasai jiwaku.
Semoga, memang itu yang dirasakannya padaku. Dan aku harap, semua akan selalu seperti ini. Walaupun dari lubuk hatiku menyadari, bahwa hal itu tidaklah mungkin. Pasti nantinya akan ada berbagai batu ganjalan yang akan mencoba untuk mengganggu kita. Dan saat itulah, rasa sayang kita akan diuji. Semoga, kita bisa melewatinya…

4 Komentar

Filed under Full fiksi

4 responses to “Cerpen Jatu Cinta

  1. edi

    wah….

    yang bikin lagi jatuh cinta ya ini mas?

  2. ngaku_nama_ian_dan_mau_pinjem_kaset_mp3

    ceile..jatu tertimpa tangga ya donk?

  3. halo…. salam kenal … blognya keren artikelnya sangat keren mas….

    di tunggu kunjungan baliknnya……

    terima kasih…..

  4. setau saya Jatu itu dari bahasa Sansekerta yang artinya C I N T A …🙂

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s