Kisruh Sidang Paripurna Pansus Century

Woa, saya luar biasa terkejut dengan berita yang muncul kemarin. Yang intinya adalah memberitakan bahwa sidang paripurna pansus century yang nantinya akan memaparkan hasil penyelidikan pansus selama ini tentang kasus century ternyata berakhir ricuh di hari pertama. Padahal, sidang ini baru merupakan sebuah harapan kecil dari rakyat agar kasus century bisa terbongkar, namun alih-alih fokus pada hasil temuan, kericuhan yang terjadi justru bersumber pada ketidak setujuan pada agenda sidang. Sesuatu yang harusnya tidak perlu sampai menyebabkan hal-hal yang heboh seperti ini.

Kericuhan sendiri kurang lebih -dari yang dapat saya tangkap- adalah dikarenakan adanya ketidaksepahaman dalam agenda sidang tentang penyampaian pandangan dari fraksi-fraksi. Di mana banyak fraksi dari non Demokrat yang menganggap hal itu tidak perlu dan harusnya langsung pada pandangan akhir saja. Dari perbedaan pendapat itu, tiba-tiba saja bermunculan berbagai interupsi yang menghujani meja pimpinan sidang. Dan tentu saja, hal ini sangat menyulitkan pimpinan sidang. Hingga kemudian tiba-tiba pimpinan sidang menutup sidang (yang kemudian dianggap otoriter oleh beberapa anggota sidang yang tidak setuju akan tindakan itu). Dan tentunya hal itu menimbulkan kekacauan yang luar biasa di dalam ruangan sidang. Dan berbagai insiden pun terjadi. Luar biasa hebat memang pejabat-pejabat kita.🙂

Terlepas dari itu semua. Karena saya di sini akan berusaha untuk tidak memberikan penilaian apapun terhadap sidang itu, karena saya yakin rakyat pasti sudah mempunyai penilaiannya sendiri-sendiri. Namun yang saya ingin bagi di sini adalah tentang perbandingan sidang paripurna itu dengan sidang yang baru saja saya ikuti sendiri, yaitu Rapat Anggota Tahunan dari Koperasi KOPMA UGM pada tanggal 11-14 Februari 2010 kemarin.

Mengapa kemudian saya harus membandingkan keduanya? Well, mungkin brotha n sista sekalian tidak akan menganggap hal itu penting. “Ian ini gimana sih, keduanya ya jelas beda lah, hla wong yang satu aja merupakan sidang yang terbesar di negara, masak mau dibandingin sama sidang kelas koperasi mahasiswa?” Mungkin itu salah satu anggapan yang ada di benak brotha n sista sekalian sekarang. Oke, memang secara detailnya sangat berbeda, baik dari segi biayanya, kepentingannya, jumlah anggotanya, kapabilitas anggotanya, dan juga perhatian masyarakat terhadapnya sangatlah berbeda. Namun, jika kita melihat dari segi yang lain, yaitu suasana dan jalannya sidang ini, maka hal ini cukup menarik untuk dibandingkan. Mengapa begitu? Well, stay with me guys…..

Asal tahu saja, jalannya RAT yang saya ikuti kemarin menurut saya benar-benar mirip dengan jalannya sidan paripurna kemarin. Baik itu dari pembacaan agenda, pengaturan tatib, dan segala hal yang berkaitan dengan itu, semuanya sangat mirip dan identik. Dan saya pun kemudian berpikir, “bukankah ini memang standar sebuah sidang resmi?” Oke, jika sudah seperti itu, maka sekarang jelas, bahwa sidang paripurna pansus century dan RAT memiliki esensi yang sama. Yaitu penentuan pengambilan keputusan.

Baiklah, kalau memang begitu, bisa diterima bahwa Sidang paripurna Pansus Century (SPPC) memang bisa dibilang sama dengan RAT. Lalu apa yang berbeda sehingga dua hal ini menarik untuk diperbandingkan?

Baiklah, sekarang mari kita telisik tentang anggota yang mengikuti sidangnya. SPPC adalah sebuah sidang luar biasa besar yang tentunya diikuti oleh anggota dewan yang bahkan untuk dapat duduk di sana saja harus mengalami sebuah pertarungan hebat di pemilu lalu. Di mana mereka mengalahkan berbagai pesaingnya yang bahkan ada beberapa pesaingnya yang kalah kemudian menjadi “stress”. Bukankah secara logika, mereka yang duduk di sana sekarang adalah yang luar biasa hebat? Tentu iya, menurut saya. Bandingkan dengan RAT, dimana untuk dapat duduk di dalam ruangan sidang, mereka cukup mengeluarkan uang sebanyak kurang lebih Rp55.000,- dan mengikuti pendidikan diksar koperasi. Cukup itu saja. Sehingga jelas, kualitas bisa dibilang tidak sepadan dibandingkan dengan SPPC. Namun, perlu diingat juga, bahwa anggota dari sidang hampir semuanya adalah mahasiswa UGM. Yang tentunya secara umum, ditangan merekalah nantinya masa depan Indonesia berada. –tentu saja dengan mahasiswa uiversitas lainnya juga- Dan bukan mustahil, mereka juga lah yang nantinya akan duduk di gedung DPR.
Nah, dengan komposisi anggota seperti itu, kemudian kita perlu membahas bagaimana jalannya rapat sendiri. Tentunya, saya tidak dapat menjelaskan kejadian rapat secara detil. Namun intinya adalah, di mana pada rapat anggota tahunan koperasi KOPMA UGM, kata sepakat bisa dibilang jauh lebih mudah untuk tercapai dibandingkan dengan SPPC.
Hal ini bisa dipengaruhi beberapa sebab. Bisa jadi karena masalah yang dibahas mungkin lebih sederhana (walaupun sebenarnya RAT cukup rumit juga). Bisa juga hal ini dikarenakan adanya sikap kepedulian dari anggota koperasi yang kurang, sedang di SPPC anggota sangat kritis. (atau bisa juga sok kritis, namun semoga tidak).
Disamping itu juga, saya ingin kita mencoba untuk berempati, bagaimana jika kita menjadi anggota dewan? Pernahkah kita memikirkan hal ini? Tentang apa yang kita lakukan jika misalnya kita berada pada posisi sebagai anggota dewan?
Pernahkah kita merasakan betapa susahnya menjadi dewan? Bagaimana rasanya sangat sulit untuk dapat berbicara di dalam sidang. Bagaimana sulitnya agar kita dapat dihargai. Dan betapa lelahnya kita saat harus sidang puluhan jam. Jujur, dari pengalaman saya saat mengikuti RAT, hal itu sangatlah melelahkan. Dan bukannya dalam sidang itu juga baik-baik saja, perbedaan pendapat, saling berebut untuk berbicara, dan juga anggota sidang yang tertidur dapat kita temui. Cukup sedikit mirip dengan SPPC. Padahal yang melakukannya juga adalah para mahasiswa, yang secara generalisir sering melakukan demo terhadap dewan.
Saya bukannya membela dewan, tapi marilah kita sejenak berpikir, pernahkah kita merasakan apa yang dirasakan oleh anggota dewan?

1 Komentar

Filed under Freedom to speak

One response to “Kisruh Sidang Paripurna Pansus Century

  1. Hikari Aishawa

    ehhh dijadikan berita di foraksi wae kiy…apik weh??
    ahahaha..setujuu…saya sangat setuju.

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s