Survey’s Diary part one : My First Act, The Last One Begins, The Last One Finish

Mentari bersinar dengan malu-malu aku saat mulai melangkah keluar dari perpustakaan Fisipol UGM. Dengan perasaan gelisah, aku percepat langkahku menuju plasa bawah kampus Fisipol UGM. Tempat di mana rekan-rekan seperjuanganku menungguku dengan tidak sabar (mungkin). Mereka adalah Dani, Ikhsan, Mafita, Radit, dan Wiznu, 5 orang mahasiswa ber-IP >3 di jurusan ilmu komunikasi UGM.

Dengan kecepatan sedang, akhirnya aku berhasil datang ke tempat mereka. Sesampainya di sana dapat kulihat mimik cemas seseorang yang menanti teman yang dikangeninya (prikitiuw, ^^). Setelah sempat berintermezzo serta bercakap-cakap sedikit, akhirnya tim ini pun berangkat. Tim Datasement Khusus 88 yang siap untuk mendobrak rumah teroris. Eh maaf, yang terakhir salah ketik. Maksudnya adalah tim penyebar questionare.

Akan pergi ke mana kita? well, tujuan kita adalah Brebah, salah satu kecamatan di Sleman yang akan menjadi salah satu objek penelitian tebtabg pelayanan pendidikan di kabupaten Sleman. Hal itu kami lakukan dalam rangka membantu para dosen kami untuk melakukan penelitian demi kepentingan nusa dan bangsa ini.

Setelah melakukan perjalanan panjang antar kota ( Sleman-Jogja-Sleman-Bantul-Sleman, wow!), akhirnya kami dengan keringat yang berceceran berhasil menancapkan standar motor di atas tanah Brebah, tepatnya di desa Sendangtirto. Di situlah kami mulai merancang strategi, menyiapkan ancang-ancang untuk tindakan berikutnya, serta tempat berkumpul kembali untuk regroup. Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang panjang dan melelahkan, konsesnsus pun dapat tercapai. Kelompok kecil ini dibagi dalam kelompok mikroskopis yang berjumlah 3, masing-masing dua orang. Ikhsan dengan Wuznu, Mahfita dengan Dani, dan aku sendiri dengan Radit. Setelah persiapan beres, kami pun langsung bergegas.

Belum setengah jam perjalananku dengan Radit dimulai, masalah sudah datng. Kami mendatangi kantor kepala desa dan akhirnya malah terjebak dalam rumitnya birokrasi yang bertele-tele dan tak penting. Sempat bingung dan putus asa, akhirnya kami memutuskan untuk bergerilya ke desa lain dulu. Di Brebah sendiri ada 4 desa, yaitu Sendang tirto, Kali tirto, Tegal tirto, dan Jogo tirto. Karena Kali tirto dan Tegal tirto sudah di isi oleh tim lain, maka kamipun bermaksud untuk mendatangi Jogotirto saja.

Dan lagi-lagi harus ada perjalanan panjang untuk sampai ke sana. Melewati jembatan, pasar, kuburan, dan hamparan hijau sawah-sawah yang kekeringan. Sebelum akhirnya bisa sampai ke dalam asrinya desa Jogotirto. Yang menurut kami merupakan desa yan gpaling “ndeso” dan terpencil dibanding ke 3 desa lainnya. Dan akhirnya, kami pun mulai bergerilya dengan hati-hati dan siaga satu.

Menyebar 14 questionaire ternyata tak semudah seperti yang dibayangkan. Kami harus berkelana dari satu rumah ke rumah lainnya. Mencari adanya tanda kehidupan di situ. Di sanalah saya merasa, bahwa melihat manusia bagaikan melihat oase di tengah gurun pasir. Dan di saat kami masih asyik mencari, tiba-tiba Radit sudah mendapat kabar bahwa tim lain sudah pada selesai. Wow, kami berdua kaget bukan kepalang. Mulai sedikit panik, kami berusaha mempercepat proses. Tapi ternyata proses tetap berjalan lambat. Dari pukul 11.30 sampai dengan pukul 13.00, kami baru bisa menyebar 6 questionare. Dan jujur saja, kurun waktu itu sudah merupakan dua kali lipat dari waktu yang dibutuhkan tim lain untuk menyebar 13 questionare! Unbelievable!

Tapi kami tetap tidak bis aberbuat apa-apa, kecuali tetap menjalani proses satu demi satu. Di tengah kepanikan inilah, masih ada satu pelajaran yang bisa kuambil. Satu pelajaran itu adalah : Jangan menilai orang dari luar! Kata-kata itu sudah sering saya dengar. Tapi mungkin baru sekarang saya mendapati living proof nya secara lansung. Ada beberapa contoh yang bisa menjelaskan hal itu.

Yang pertama, saya dua kali melihat bapak-bapak yang berbadan besar, berkulit hitam, dan berpotongan rambut cepak ala ABRI. Dari situ saya berpikir bahwa dia adalah preman ( Sumpah aku lumayan takut juga, n_n ). Namun ternyata mereka sangat friendly dan ramah, salah satunya bahkan mempersilahkan kami untuk duduk di ruang tamunya. Dengan kata lain, kita dianggap tamu! WOW!!

Lalu, juga ada seorang bapak setengah baya yang menurut saya agak buta huruf, atau paling tidak kesuliatn untuk melihat dan membaca tulisan-tulisan di questionare itu. Tapi dia masih mau mengisinya dengan sungguh-sungguh dan serius. Jujur, dari lubuk hati yang paling dalam saya salut dengan anda, bapak siapapun namanya. Saya doakan anda masuk surga!

Dan sebaliknya, ada juga orang yang mungkin terlihat cantik diluar namun ternyata hatinya tak sebaik wajahnya. Apalagi dengan tatapan ganasnya ( semoga anda hidup bahagia dengan tatapan anda itu ) beliau dengan enteng mengatakan “malezt” saat saya sodori questionare. Huft, jujur dan menyakitkan.

Akhirnya jam 3 tet kami selesai. Dan menyusul teman-teman lainnya. Huft, cukup memalukan bagi diriku. Sudah datngnya paling akhir, pulangnya paling akhir pula! Nasib… nasib…, tapi dengan kata lain bisa juga dikatakan : Saya adalah orang yang konsisten! hha, ^.^

Dibuat dengan santai di dalam kamar Kost oleh :
Ian Bood

Bagi yang ingin melihat situs tentang komunikasi saya rekomendasikan anda melihat di sini   «« monggo di klik

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan, tugas

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s