Polemik Pemilihan Menteri Di Media Indonesia

No ImageMedia massa belakangan ini sangat gencar dan ramai membicarakan dan memberitakan tentang masalah menteri-menteri yang akan dipilih oleh SBY. Dari meliput langsung perjalanan para tokoh itu saat berada di Cikeas untuk menjalani tes uji kelayakan, maupun sampai pada meminta opini dari para ahli tentang hal itu. Sehingga kemudian munculah nama-nama yang diprediksi akan mengisi pos-pos kementrian dalam kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Setidaknya, menurut para pelaku media, hal itu adalah berita yang paling utama dan yang paling sensasional saat ini.

Isi dari opini publik pun macam-macam. Namun yang paling bisa saya lihat adalah, mayoritas publk meragukan kabinet ini. Hal ini bisa terjadi karena seperti yang kita semua tahu, kebanyakan nama-nama yang muncul adalah para rekan politik dari presiden SBY. Sehingga muncul dugaan, menteri-menteri yang ada sekarang lebih dikarenakan adanya balas jasa politik. Kasarnya bisa disebut juga dengan bagi-bagi kekuasaan. Entah itu Tifatul Sembiring, Hatta Rajasa, ataupun tokoh-tokoh politik lainnya. Dari kalangan profesional memang ada, tapi masih belum dianggap cukup untuk menjalankan pemerintahan di Indonesia ini.

Dari gejolak yang ada di atas, saya kemudian teringat oleh perkataan dari dosen saya, Ana Nadya Abrar atau akrab disapa dengan panggilan Bang Abrar. Dalam beberapa kesempatan dikuliahnya, beliau sering mempertanyakan kecenderungan media untuk meliput hal-hal itu-tentang para menteri itu-karena menurut beliau, hal itu sebenarnya bukanlah hal yang terlalu penting. Kebutuhan publik sebenarnya menurut beliau lebih pada gerakan dan gebrakan apa yang mungkin akan dilakukan para menteri itu pada masa jabatannya nanti. Dan bukan pada siapa menterinya. Dan seperti kita tahu, media memiliki akuntabilitas untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh publik. Bukan sebaliknya, memaksa publik untuk mengikuti hal yang sebetulnya kita tidak perlu tahu.

Khususnya untuk media televisi, dosen saya di Fisipol UGM satunya, Wisnu Martha, atau akrab disapa dengan panggilan mas Wisnu, mengatakan dalam salah satu kesempatan di kuliahnya, bahwa tidak seharusnya media televisi melakukan pemaksaan kepada publik untuk mendapat informasi seperti yang media inginkan. Karena yang seperti itu bisa dianggap adalah pencurian ruang publik. Karena ruang yang dipakai oleh media televisi adalah ruang publik milik pemerintah yang dipertanggungjawabkan kepada publik. Karena itulah, seharusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi. Apalagi sudah timbul stigma bahwa pemirsa di Indonesia itu semakin pintar.

Karena itulah, kedepannya saya pribadi berharap media semakin mampu menjalankan perannya sebagai pilar keempat dari demokrasi. Sehingga implikasinya, rakyat Indonesia akan semakin terjamin kebutuhan informasinya, dan akhirnya akan menjadi semakin dewasa dan baik.

Kunjungi situs untuk sumber pengetahuan ilmu komunikasi kita di sini.

2 Komentar

Filed under pendidikan

2 responses to “Polemik Pemilihan Menteri Di Media Indonesia

  1. uzi

    tifatul sembiring bukane hya?

  2. apakah presiden dan para menteri yang baru bisa membuat indonesia jadi lebih baik?
    kita liat saja nanti🙂

    salam kenal ya..

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s