Flu Babi

Flu babi, wow! Bisa kita lihat sekarang, bagaimana luar biasanya flu babi atau sekarang sudah berganti nama menjadi influenza A (H1N1). Di mana hampir semua media massa di Indonesia, bahkan dunia, begitu gencar memebrikan pemberitaan terhadap kasus-kasus yang terjadi seputar penyakit ini. Ada banyak alasan mengapa influenza A yang seterusnya dalam artikel ini akan saya sebut sebagai flu babi -karena nama itu lebih merakyat dan lebih mudah dipahami oleh masyarakat- terus diperbincangkan di seluruh dunia. Artikel ini nantinya akan mencoba menerangkan hal itu.
Namun sebelum itu, tidak ada salahnya dari kita jika kemudian kita mencoba mencari tahu terlebih dahulu, apa itu virus flu babi.
Pengertian
Flu babi (Inggris:Swine influenza) adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A. Babi dapat menampung virus flu yang berasal dari mflu-babianusia maupun burung, memungkinkan virus tersebut bertukar gen dan menciptakan galur pandemik. Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi.
Asal mula

Pada 5 Februari 1976, tentara di Fort Dix, Amerika Serikat menyatakan dirinya kelelahan dan lemah, kemudian meninggal dunia keesokannya. Dokter menyatakan kematiannya itu disebabkan oleh virus ini sebagaimana yang terjadi pada tahun 1918. Presiden kala itu, Gerald Ford, diminta untuk mengarahkan rakyatnya disuntik dengan vaksin, namun rencana itu dibatalkan.

Pada 20 Agustus 2007, virus ini menjangkiti seorang warga di pulau Luzon, Filipina.

Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, gejalan influensa ini mirip dengan influensa. Gejalanya seperti demam, batuk, sakit pada kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, dan lemah lesu. Beberapa penderita juga melaporkan buang air besar dan muntah-muntah.

Dalam mendiagnosa penyakit ini tidak hanya perlu melihat pada tanda atau gejala khusus, tetapi juga catatan terbaru mengenai pasien. Sebagai contoh, selama wabah flu babi 2009 di AS, CDC menganjurkan para dokter untuk melihat “apakah jangkitan flu babi pada pasien yang di diagnosa memiliki penyakit pernapasan akut memiliki hubungan dengan orang yang di tetapkan menderita flu babi, atau berada di lima negara bagian AS yang melaporkan kasus flu babi atau berada di Meksiko dalam jangka waktu tujuh hari sebelum bermulanya penyakit mereka.” Diagnosa bagi penetapan virus ini memerlukan adanya uji makmal bagi contoh pernapasan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Flu_babi)

Nah, setelah kita mengetahui apa itu flu babi dan juga sejarah yang ada di dalamnya, sekarang mari kita melangkah ke bagian yang lebih lanjut. Yaitu, mengapa flu Babi yang ternyata sudah ada di dalam masyarakat sejak tahun 1976 malah baru “ngeboom” sekarang?? Hmm, sebenarnya itu adalah sebuah pertanyaan yang cukup sulit. Saya yang hanya merupakan mahasiswa “kuper” di UGM tentulah buakn referensi yang kuat bagi anda. Namun, jika saya diperkenankan untuk berspekulasi, saya mempunyai beberapa jawaban tentang hal itu.
Yang pertama, flu babi baru sekarang mendapat perhatian dari masyarakat luas karena mendapat efek domino dari kekhawatiran umat manusia terhadap flu burung. sehingga kemudian, flu-flu yang berbau binatang kemudian jadi diwaspadai secara ekstra. padahal di tahu 1976, korban jiwa sudah ada. Dan banyak dokter yang mengatakan bahwa itu sama dengan flu babi yang sekarang, namun karena flu burung belum “terkenal”, maka manusia acuh saja terhadap hal itu. Karena kita tahu juga, bahwa sebenarnya menurut WHO, flu babi tidaklah terlalu berbahaya, apalagi jika dibandingkan dengan flu burung, sangat jauh efeknya.
Yang kedua, karena efek dari global village yang ada di dunia saat ini. Sehingga informasi bisa cepat melaju, dan kata-kata, penggambaran, deskripsi, serta penceritaan dari tiap mulut yang sangat bebas dan berbeda-beda, menimbulkan banyak pengaruh bermacam-macam pada umat manusia. Dan klimaks dari implikasi itu adalah ketakutan yang amat sangat terhadap flu babi. Apalagi ditambah dengan gambar-gambar yang mengerikan dari penderita flu babi. Makin memperkuat dramatisasi cerita menyeramkan dari flu babi. Sehingga menjadi berita yang menarik untuk diliput dan diulas.
Dan yang terakhir, bisa dikarenakan kesadaran manusia yang meningkat perihal kesehatan.
Dan disamping hal itu, ada beberapa tambahan informasi lagi yang ingin saya sampaikan untuk anda. Yaitu, hal-hal yang perlu diperhatikan agar terhindar dari flu babi.
Tutupi hidung dan mulut Anda dengan tisu jika Anda batuk atau bersin. Kemudian buang tisu itu ke kotak sampah.
Sering-seringlah mencuci tangan Anda dengan air bersih dan sabun, terutama setelah Anda batuk atau bersin. Pembersih tangan berbasis alkohol juga efektif digunakan.
Jangan menyentuh mulut, hidung atau mulut Anda dengan tangan.
Hindari kontak atau berdekatan dengan orang yang sakit flu. Sebab influenza umumnya menyebar lewat orang ke orang melalui batuk atau bersin penderita.
Jika Anda sakit flu, CDC menyarankan Anda untuk tidak masuk kerja atau sekolah dan beristirahat di rumah. (http://www.detiknews.com/read/2009/04/27/140840/1122066/10/tips-hindari-flu-babi )

Tamiflu
Satu hal yang perlu masih kita syukuri adalah, masih ada obat yang dapat mengahcurkan virus flu babi ini. Obat itu adalah tamiflu. Tamiflu ® (oseltamivir phosphate) adalah antivirus oral yang pertama yang dipergunakan untuk terapi dan pencegahan influenza. Tamiflu masuk dalam kelompok obat yang dikenal sebagai penghambat neuraminidase (neuraminidase inhibitors – NAIs). NAIs dirancang untuk secara spesifik menyerang virus influenza dan memcegah replikasi virus dalam tubuh dengan menyerang satu dari dua struktur permukaan virus influenza yaitu protein neuraminidase.

Neuraminidase memampukan virus untuk terus menginfeksi sel ‘induk semang’. Jika neuraminidase dihambat, virus tidak akan mampu keluar dari sel ‘induk semang’ dan mati, sehingga virus tidak dapat menyebar dan menginfeksi sel lain dalam tubuh. Berbeda dengan antivirus lama, penghambat M2, NAIs efektif melawan virus influenza jenis A dan B.

Tamiflu: Kemanjuran

Tamiflu dirancang untuk efektif melawan semua jenis virus influenza yang relevan secara klinis.2 Tamiflu telah memperlihatkan efektifitas klinis untuk terapi influenza pada orang dewasa dan anak-anak diatas satu tahun serta untuk pencegahan influenza pada orang dewasa dan remaja diatas 13 tahun.

Tamiflu memberikan:
o 38 persen pengurangan tingkat keparahan gejala 3
o 67 persen pengurangan komplikasi sekunder seperti bronkitis, pneumonia dan sinusitis 4
o 37 persen pengurangan durasi sakit influenza 5

Pada anak-anak Tamiflu memberikan:
o 26 persen pengurangan keparahan dan durasi gejala influenza 6
o 44 persen pengurangan insidens yang dihubungkan dengan otitis media dibandingkan dengan terapi standar 7

Manfaat Tamiflu tidak hanya terbatas pada pengurangan gejala influenza. Bukti-bukti menunjukkan bahwa terapi dengan Tamiflu menurunkan terjadinya komplikasi pada saluran pernapasan bawah sekunder, bronkitis, pneumonia dan lamanya perawatan di rumah sakit 4,8,9,10. Data baru memperlihatkan bahwa Tamiflu dihubungkan dengan pengurangan risiko sehubungan dengan komplikasi influenza serta risiko kematian yang signifikan. 11,12.

Pada studi klinis, Tamiflu memperlihatkan efektifitas yang tinggi, ditoleransi dengan baik serta memiliki profil keamanan yang baik. 13.

Tamiflu: Perannya dalam penatalaksanaan pandemi influenza

Dalam hal terjadi pandemi, World Health Organization (WHO) memperkirakan perlu waktu sampai enam bulan untuk mengisolasi serta memproduksi vaksin yang tepat untuk jenis virus yang menyebabkan pandemi 14. Selam a periode enam bulan tersebut, selama vaksin sedang dikembangkan, anti virus memiliki peranan utama dalam fase awal pandemi. Tamiflu telah diujicoba oleh WHO melawan beragam jenis virus influenza dan telah terbukti efektif melawan jenis virus inluenza H7 dan H9. Data terbaru juga memperlihatkan bahwa Tamiflu efektif melawan jenis virus flu burung H5N1 15 yang saat ini tengah berjangkit di Asia Tenggara.

Penyediaan anti virus seperti Tamiflu telah direkomendasikan oleh PBB (atau WHO ???) sejak 1999 sebagai bagian dari “Pandemic Preparedness Plan” 16, yang dikembangkan untuk membantu pemerintah dalam persiapan mereka menghadapi pandemi.

Tamiflu: Dosis dan Pemberian

Tamiflu diberikan secara oral dalam bentuk kapsul (75 mg), yang mampu mencapai semua tempat infeksi dalam tubuh dimana virus menggandakan diri 17. Dosis terapi pada orang dewasa adalah satu kapsul dua kali sehari selama lima hari. Terapi harus diberikan sedini mungkin setelah munculnya gejala. Semakin dini oseltamivir diberikan, semakin cepat pasien pulih dari influenza. Untuk pencegahan influenza, dosis Tamiflu adalah satu kapsul sehari selama 7 hari sampai paling lama enam minggu.

Tamiflu: Keamanan

Hasil studi klinis terapi memperlihatkan bahwa Tamiflu dapat ditoleransi dengan baik, dengan sedikit jumlah pasien yang dilaporkan mengalami efek samping ringan sementara, umumnya mual ringan atau muntah – (perlu diingat bahwa influenza juga dapat mengakibatkan orang merasa mual ). Selama penggunaan jangka panjang untuk studi profilaksis , kejadian ini dilaporkan sama antara Tamiflu dan plasebo. Efek samping tidak dihubungkan dengan pengunduran diri penderita dari studi dan ditemukan juga bahwa meminum obat bersamaan dengan makanan dapat meningkatkan toleransi 13.

Tamiflu: Pendaftaran

Tamiflu tersedia untuk terapi influenza pada orang dewasa dan anak diatas 1 tahun. Lebih dari 33 juta pasien telah diterapi dengan Tamiflu di lebih dari 60 negara termasuk Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Australia, Uni Eropa, Swiss, Amerika Latin dan Indonesia. Tamiflu juga dietujui di Uni Eropa dan Amerika Serikat untuk pencegahan influenza pada remaja diatas 13 tahun

Referensi:

1. http://micro.magnet.fsu.edu/cells/viruses/ [accessed 13th July 2005 ]
2. Oxford JS et al. Targeting influenza virus neuraminidase-a new strategy for antiviral therapy. Drug Discovery Today. 1998:3 (10) 448-456
3. Treanor JJ et al. Efficacy and safety of the oral neuraminidase inhibitor oseltamivir in treating acute influenza: a randomized, controlled trial. JAMA 2000;283:1016–24
4. Kaiser et al . Impact of Oseltamivir treatment on influenza-related lower respiratory tract complications and hospitalisations. Arch.Intern.Med. 163:1667-1672 (2003)
5. Nicholson KG et al. Efficacy and safety of oseltamivir in treatment of acute influenza: a randomised controlled trial. Lancet 2000; 355:1845–1850
6. Whitely RJ, Hayden FG et al; Oral oseltamivir treatment of influenza in children, Pediatr Infect Dis J 2000; 20: 122-133
7. Roche data on file, 2003
8. Nicholson KG et al. Efficacy and safety of oseltamivir in treatment of acute influenza: a randomised controlled trial. Lancet 2000; 355:1845-1850
9. Whitely RJ, Hayden FG et al; Oral oseltamivir treatment in children, Paediatric Infectious Disease Journal 2000; 20: 122-133
10. Nordstrom BL, Sung L, Suter P et al. Risk of pneumonia and other complications of influenza-like illness in patients treated with oseltamivir. Current Medical Research and Opinions (2005) 21 (5) 761 – 768
11. Nordstrom BL, Zhu S, Smith JR. Reduction of influenza complications following oseltamivir use. Abstract submitted to 2 nd European Influenza Conference, 2005.
12. McGeer A, Green K, Eunson L, Gebert C, Ma A, Plevneshi A, Shigayeva N, Siddiqi N, Low D. Clinical features of laboratory confirmed influenza illness requiring hospital admission in Ontario, Canada: implications for treatment recommendations. Poster submitted to 2 nd European Influenza Conference 2005.
13. Dutkowski R. Safety and pharmacology of Oseltamivir in clinical use. Drug Safety 2003:26(11) 787-801
14. WHO Consultation On Priority Public Health Interventions
15. Yen H-L, Monto AS , Webster RG, Govorkova EA (2005). Virulence may determine the necessary duration and dosage of oseltamivir treatment for highly pathogenic A/Vietnam/1203/04 influenza virus in mice. J Infect Dis 192: 665-672.
16. http://www.who.int/csr/resources/publications/influenza/en/
17. Kurowski, M et al. Oseltamivir distributes to influenza virus replication sites in the middle ear and sinuses. Clin.Drug.Invest. 2004:24 (1) 49-53

(http://www.roche.co.id/bahasa/pharma/anti_viral/tamiflu_anti_viral_id.htm)

Namun ternyata, ada beberapa virus yang kebal terhadap tamiflu ini. Dan efek samping lainnya adalah bahwa tamiflu ini berbahaya bagi ibu hamil. Bagi ibu hamil yang terkena flu babi, sebaiknya memakai obat hisap seperti inhaler saja, namun obat tersebut cukup mahal, dan sampai tanggal 15-7-2009 masih belum tersedia di Indonesia. (http://news.okezone.com/read/2009/07/14/1/238478/tamiflu-berbahaya-untuk-wanita-hamil)

1 Komentar

Filed under Freedom to speak

One response to “Flu Babi

  1. kok sekarang flu babi dah ga gembar-gembor lagi yaa, sebagaimana flu burung

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s