Pembiasan Nilai-nilai Islam

FisipolBeberapa waktu yang lalu, saya sebagai mahasiswa Fisipol UGM yang masih aktif meluangkan waktu (yang sebenarnya memang sangat luang) untuk masuk ke portal akademik saya di UGM.AC.ID. Niat awal sich hanya untuk melihat apakah IP saya masih akan sejeblok dulu lagi atau tidak. Namun, saat melihat forum diskusi, ada satu tema yang menurut saya sangat menarik, yaa… sebenarnya menarik semua sih bagi saya, hanya saja karena billing di warnet terus berjalan, saya mau tak mau harus memilih satu saja tema yang paling menarik. Dan karena tentang Fisipol, saya memilih tema tersebut. Hmm, memangnya apa sih tema itu? Kalau tidak salah, judulnya adalah “ADZAN DI FISIPOL KOK MIRIP KAYAG NYANYI MUSIK PUNKROCK YA?!!”, hmm, itu bohong, judulnya yang benar adalah “PERIHAL ADZAN DI FISIPOL UGM”. Di situ, si penulis threat berpendapat bahwa adzan di Fisipol sangat mengganggu. Tentu saja bukan adzannya yang dipermasalahkan, akan tetapi megaphonenya yang dianggap terlalu keras untuk dibunyikan di dalam kampus yang notabene adalah tempat belajar dan berkarya, mungkin bercinta juga, hahagz. Wow, cukup menarik bukan?
Dan seperti yang saya duga, para respondennya pun bermunculan dengan kritis dan tegasnya. Walaupun tidak satu paham tentunya. Ada yang berpendapat bahwa hal itu adalah konyol jika dipermasalahkan. Ada juga yang menganggap bahwa kita harus menjaga tenggang rasa di dalam berkomunitas di kampus dan menghargai para noni (baca = non islam) yang diasumsikan dalam hal ini terganggu. Ada lagi yang menanggapi bahwa para noni saja tidak mempermasalahkan hal ini, mengapa kita yang muslim harus pusing-pusing. Hal itu cukup benar mengingat selama ini tidak pernah saya temui seorang nonipun yang menggerutu terhadap kerasnya suara adzan di Fisipol. Dan masih banyak pro kontra lainnya lagi yang didominasi oleh keharusan adzan yang berkumandang di kampus saya tercinta ini. Dan saya pribadi setuju dengan hal itu.
Namun dalam coretan saya kali ini, bukan hal itu yang saya bahas (kalau saya bahas itu, saya akan lebih memilih untuk menulis di post threat daripada di blog). Melainkan fenomenanya. Bagaimana mungkin masalah adzan yang merupakan panggilan ibadah bagi orang muslim dipermasalahkan oleh orang muslim sendiri. Ini menurut saya bukan murni kesalahan orang yang membuat threat itu. Tapi menurut saya, ini adalah efek dari pembiasan nilai-nilai islam yang terus terjadi di masyarakat. Di mana seringkali orang muslim itu beranggapan, karena banyak orang muslim lainnya yang melakukannya, maka itu halal bagi saya untuk melakukannya. Ada banyak contohnya di dunia ini. Misalnya masalah demokrasi, di mana pemimpin ditentukan oleh semua orang di Indonesia. Dan karena banyak pembesar agama yang mengikuti aturan demokrasi, maka kita kemudian melupakan fakta bahwa kemungkinan besar demokrasi adalah thaguth. Dan bahkan sudah dianggap begitu oleh beberapa kelompok. Juga dalam hal berpacaran, karena banyak teman-teman kita yang berpacaran, maka kemudian kita berkesimpulan bahwa pacaran itu halal. Kalau hanya by phone sih mending, tapi kalau sudah sampe pegang-pegangan tangan, berciuman, dan bahkan ML dengan pacar yang bukan mukhrimnya?? Na’udzubillahimindzalik!
Dan begitu juga dalam hal adzan itu, di mana kita jadi mempermasalahkan suara adzan yang keras. Padahal jika dipikir-pikir lagi, adzan hanya berkumandang kira maksimal 10 menit. Memangnya kita kehilangan apa jika diam sejenak selama adzan berkumandang? Apakah berhenti mendengarkan dosen selama 10 menit akan membuat ilmu kita hilang? membuat IP kita jadi enol koma? well, u can answer by yourself dude! Dan intinya adalah kembali pada pembiasan nilai-nilai islam itu lagi.
Tidak mudah memang mencegah hal itu terjadi di Indonesia yang notabene adalah negara yang majemuk dan kaya akan budaya yang bermacam-macam. Di mana tenggang rasa antar agama sangat penting di sini. Saya jika menjadi seorang tokoh agama juga pasti akan sulit untuk tidak ikut sistem demokrasi jika ada yang menawari dengan harga yang menggiurkan. Jika saya dirayu oleh orang secantik Julie Estelle, ataupun Arumi Bachin, mungkin saya juga akan sulit untuk mengatakan tidak berpacaran pada mereka. Dan karena itulah, mari kita hilangkan pembiasan tata cara kita dalam beragama islam. Kita boleh hidup di negara yang majemuk, akan tetapi islam kita harus tetap murni dan sesuai dengan Al-qur’an dan Al-Hadits. Dan hal ini tidak akan bisa tercapai tanpa persatuan dari umat islam sendiri.

1 Komentar

Filed under Freedom to speak

One response to “Pembiasan Nilai-nilai Islam

  1. Ping-balik: Sepakbola dan Agama | ian bood

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s