Tugas Sejarah Media Massa

no-image4Pada awal pertemuan, Cak budi sudah menekankan bahwa perkuliahan ini mempunyai tujuan antara lain adalah untuk memberikan gambaran tentang peristiwa-peristiwa, institusi-institusi, dan individu-individu yang ‘membentuk’ media massa; mempelajari muasal, perkembangan, dan beberapa persoalan sosial yang menyertai kehadiran media massa; Mengembangkan suatu pemahaman (kritis) tentang peran sosio-kultural media massa di masyarakat. Jadi, secara tak langsung beliau sudah mengharapkan lebih dari sekedar pengetahuan tentang sejarah media massa, melainkan juga pemahaman kritis terhadap peran media massa bagi masyarakat. Sehingga akan memiliki pengaruh terhadap masyarakat luas nantinya.

Adapun asumsi-asumsi kunci yang ditekankan oleh Cak Budi pada perkuliahan ini adalah antara lain, Komunikasi menyangkut masalah transmisi dan perluasan informasi dan pengetahuan; medium transmisi ikut membentuk masyarakat. Medium merupakan kunci pembuka teka-teki masalah perkembangan sosial, ekonomi, dan politik; pandangan yang lebih ekstrim beranggapan bahwa medium teknologi komunikasi menentukan masyarakat.

Lalu, setelah membahas pada tujuan dan asumsi kunci dalam perkuliahan ini, kini saatnya bagi saya untuk membahas perkembangan media. Perkembangan media antara lain secara garis besar adalah :

l      40.000 SM – 1500 : mediasi ritual dan sosial

l      1500 – 1900 : tulisan dan media cetak

l      1900 – 2000 : media elektronik

l      2000- sekarang : media digital

Mediasi ritual  dan sosial lebih cenderung menuju pada budaya oral atau budaya ujar, yang medianya hanya berupa mulut atau bunyi-bunyian yang kemudian disuarakan dengan asumsi yang mendengar akan mengerti apa maksud dari komunikator dan kemudian memberikan respon.

Adapun ciri-ciri masyarakat oral antara lain adalah, relationship adalah prioritas. Karena dalam tradisi oral, dalam berkomunikasi, individu harus bertatap muka dan itu menjadikan relationship sebagai prioritas. Dan kebenaran bersifat dinamis, bukan fakta. Karena kebenaran hanya berasal dari mulut tanpa ada media yang merekamnya selain ingatan manusia.

Lalu, munculah istilah oralitas. Istilah itu sendiri mempunyai makna yaitu, bahasa-bahasa yang tidak memiliki bentuk atau referensi atau akses terhadap komunikasi tertulis. Hal itu mengacu kepada cara bagaimana bahasa dipakai kelompok masyarakat tertentu untuk berfikir dan berbicara, namun bahasa tersebut tidak memiliki akses terhadap bentuk tertulisnya. Dan juga, diyakini bahwa bahasa ujar lebih dulu ada sebelum bahasa tulis.

Lalu, setelah media oral, kini kita menuju pada media tulisan. Seperti kita tahu, adanya tulisan dianggap memudahkan umat manusia dalam mengingat-ingat suatu peristiwa dan kebenaran yang diketahuinya.

Namun, filsuf terkenal asal Yunani, Plato, berpendapat bahwa tulisan itu menghacurkan ingatan. Hal ini bisa disebabkan karena dengan menulis, maka kemudian manusia tidak akan repot-repot untuk mengingat hal yang sudah ditulis itu. Lalu tulisan itu juga dianggap tidak manusiawi dan artifisial. Dan Plato kemudian menambahkan bahwa tulisan itu kurang responsif. Bisa jadi alasannya adalah dikarenakan tulisan yang bersifat satu arah, sehingga tidak dapat memberikan respon balik terhadap respon pembacanya, sehingga pembaca kemudian tidak dapat memberikan respon secara langsung dan hanya dapat memberikan feedback saja. Lalu tulisan juga dianggap tidak dapat membela dirinya. Hal ini juga hampir sama dengan ketidakresponsifan tulisan di atas. Lalu, yang terakhir Plato berpendapat bahwa tulisan tidak dapat mengontrol audience. Hal ini juga mengacu kepada ketidakresponsifan tulisan yang akhirnya menyebabkan audience menjadi penentu terhadap proses penyampaian pesan dari tulisan itu.

Kemudian munculah istilah functional knowledge yang antara lain berciri-ciri sebagai berikut. Berfokus pada relational skill. Kebenaran adalah integritas personal. Dan itu bertujuan untuk memenuhi rasa tanggung jawab atas relasi-relasi dan keluarganya.

Setelah muncul budaya literasi ini, maka kemudian munculah pertanyaan-pertanyaan kritis yang ada di masyarakat. Pertanyaan itu antara lain adalah, apakah sama sistem ekonomi dan politik antara budaya oral dengan budaya literasi?

Jawabannya adalah beda. Pada sistem ekonomi masyarakat oral, belum ada simbol yang digunakan untuk bertransaksi. Bisa dibilang masih menggunakan sistem barter. Sedang pada masyarakat literasi sudah menggunakan simbol, seperti uang misalnya. Sedang pada bidang politik, masyrakat berbudaya oral berbeda dengan masyarakat berbudaya literasi. Masyrakat berbudaya oral lebih sederhana dalam sistemnya. Sedang tulisan lebih rumit.

Namun, dari semua pertanyaan itu kemudian muncul pertanyaan terbesar, yaitu apakah globalisasi menjadi mungkin tanpa adanya teks universal? Dan jawabannya adalah tidak mungkin, karena media baru sendiri menggunakan tulisan sebagai sumber utamanya.

Lalu, setelah itu datanglah budaya post literasi. Budaya post literasi sendiri mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan budaya literasi. Yaitu ketrampilan visual lebih besar dibanding ketrampilan menulis. Dan juga interaksi visual media lebih besar dibanding literasi tradisional.

Dan di periode ini, munculah berbagai macam bentuk media massa antara lain adalah koran / surat kabar, telegraf, foto / kamera, dan juga film ( dalam hal ini di indonesia ).

Adapun koran / surat kabar adalah media yang berkembang paling pesat dalam industri media cetak. Dan koran sendiri mempunyai fungsi utama dan fungsi sekunder. Fungsi utamanya antara lain adalah to inform, to comment, dan to provide. Sedang fungsi sekundernya adalah yang pertama untuk kampanye proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang sangat diperlukan untuk membantu kondisi-kondisi tertentu. Lalu memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik, kartun, dan cerita-cerita khusus. Dan yang terakhir adalah melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak. ( http://blogs.unpad.ac.id/nadiasabrina/?p=23 )

Lalu kemudian telegraf, adalah sebuah alat komunikasi yang berfungsi menyampaikan pesan kepada komunikan melalui sebuah pesan singkat. Biasanya berupa sandi morse. Alat ini kini sudah sangat jarang digunakan, namun masih ada dua institusi besar yang memakainya, yaitu PT. KAI dan juga militer, atau TNI. Adapun alasannya adalah lebih besar disebabkan karena kerahasiaan pesan yang disampaikan bisa jadi sangat terjamin dengan penggunaan alat komunikasi ini.

Dan ada juga fotografi. Yaitu suatu – bisa dibilang – seni yang mengambil suatu gambar yang nyata untuk kemudian diabadikan kedalam suatu kertas, dan pada perkembangannya ke dalam media elektronik dan digital.

Dan alat yang digunakan adalah kamera. Adapun kamera yang pertama adalah disebut camera obscura, yang berarti kamar gelap. Dan kamera jenis itu sudah ada sejak zaman aristoteles pada abad 3 SM. Dan ada juga beberapa teknik yang dapat digunakan dalam fotografi. Yaitu Calotype yang berarti teknik memperbanyak gambar dengan cetakan film negative. Dan yang kedua adalah teknik Colludion, yang merupakan teknik mencetak foto lebih cepat.

Dan yang terakhir, adalah perkembangan film dalam negeri. Adapun produksinya adalah meliputi tahap persiapan, tahap perekaman dan tahap akhir. Tahap persiapan antara lain terdiri dari analisis ide cerita, menyiapkan naskah, menyusun jadwal, lokasi, kostum dan property, peralatan, dan pemain. Sedang tahap perekaman terdiri dari setting, suara, cahaya, kostum, dan tata rias. Dan tahap akhir antara lain terdir dari, tahap penggabungan dan tahap keluaran.

Lalu aspek distribusinya meliputi, ruang, sistem, dan promosi. Dan kemudian yang terakhir, konsumsi film yang dipengaruhi oleh latar budaya penonton film di Indonesia, daya tarik utama mereka menonton film di Indonesia, dan penggemar film di Indonesia.

Itulah beberapa perkembangan media massa yang ada di indonesia. Baik dari segi budaya, maupun bentuknya.

Muhammad Agfian M A

08/267689/SP/23027

Ilmu Komunikasi

2008

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s