Terjebak di dalam Perguruan Tinggi

Di tengah sengatan panas matahari yang menyinari kota Jogja pada siang itu, seorang anak dengan perasaan yang sedikit malas berjalan gontai menuju kampusnya tempat dia menuntun ilmu, Fisip UGM. Tanpa memperhatikan keringat yang mengucur dari seluruh tubuhnya, dia terus melangkah tanpa henti. Di seberang anak itu berjalan, terlihat banyak mahasiswa lain dengan santainya menggeber sepeda motor mereka dengan kecepatan tinggi. Entah itu karena mereka memang terburu-buru, atau hanya sekedar bergaya. Sedikit ditarik ke utara, sudah banyak berjejer mobil-mobil dari mahasiswa FE yang mewah. Seakan menertawakan seorang anak lelaki yang harus berjalan di siang yang menyengat itu.

Itulah sedikit gambaran mengenai kehidupan seorang anak dengan ekonomi pas-pasan yang menuntut ilmu di UGM. Ditengah gempuran kaum borjuis intelektual yang banyak mengisi kursi di UGM. Sebuah pertanyaan besarpun lantas hinggap di otak kita. Mengapa dia harus memilih UGM? Mengapa bukan perguruan tinggi yang sesuai untuk dia dan ekonominya? Mengapa dia harus memaksakan uang orangtuanya?

Mungkin jawabannya ada pada kebudayaan. Kebudayaan di Indonesia dan masyarakat sekitar yang mendewakan universitas, khususnya UGM. Karena, seperti yang diungkapkan oleh sarjana alam Bacon, “We cannot command culture except by obeying her.” ( Dick Hartoko, S.J., 1984:15). Jadi, begitu dia diterima saat UM (ujian masuk), peraturan budaya mempengaruhinya untuk langsung menerima UGM tanpa pemikiran apapun. Dia secara terpaksa harus “menghamba” kepada kebudayaan.

Atau, ada juga kemungkinan yang lain. Yaitu dia termakan iklan. Seperti iklan di UGM yang menyatakan bahwa UGM adalah universitas yang merakyat. Memangnya memang segencar itukah UGM dalam dalam mengiklankan pernyataan itu? Kalau di spanduk-spanduk mungkin tidak. Tapi, dalam beberapa hal mungkin iklan itu sangat gencar dilakukan oleh UGM. “You would certainly have been aware of all the advertising around you”. ( James S. Noris, 1987:3 ) Ya, itulah kiasan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana UGM memblow-up status mereka sebagai perguruan tinggi untuk rakyat. Melalui lambangnya, ataupun jas almameternya, memang menggambarkan hal itu. Seperti gambar di lambangnya yang bermakna untuk rakyat kecil. Ataupun warna jas almamaternya yang berwarna kuning “deso” yang mengibaratkan kain goni yang dipakai oleh rakyat Indonesia di zaman penjajahan. Dan sekali lagi, bisa jadi anak tersebut terpengaruh oleh iklan itu.

Dan semua alasan itu akhirnya mempunyai dampak yang cukup besar pada anak itu. Merasa minder di kampus, sulit beradaptasi, tidak nyaman, dan mungkin sering mengalami rasa lapar. Semua hal itu jelas akan menggangu kinerjanya. Dan mungkin akan membuatnya merasa terjebak di kampusnya sendiri.

Perguruan tinggi memang bisa dibilang bagaikan tiang tinggi di atas awan dalam dunia, tidak sekedar dunia pendidikan, tapi mencakup seluruh aspek duniawi. Gaya hidup, olahraga, politik, social, teknologi, dan aspek-aspek yang lain bias jadi tergantung oleh “produk” yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

Namun, sudahkah perguruan tinggi menjadi pemasok sendi-sendi perekonomian dan kekuatan bangsa ini? Tentu sudah menjadi rahasia umum atau “gossip jalanan”, bahwa tidak semua lulusan perguruan tinggi adalah orang yang benar-benar hebat di bidang itu. Bisa saja mereka lulus hanya karena mendapat sertifikat dari universitas, tanpa harus menyelesaikan skripsi atau menjalani ujian akhir.

Tingginya uang yang berputar di perguruan tinggi pun perlu dipertanyakan. Apakah begitu gaya hidup calon intelektual bangsa ini?

Ditambah kenyataan bahwa masih banyak sarjana yang jadi pengangguran, nama perguruan tinggi semakin menurun.

Dengan semua fakta yang memojokkan perguruan tinggi itu, anak pas-pasan tadi pun bisa dibilang semakin merana. Dia harus berjuang keras untuk lulus, sementara setelah lulus nanti masa depannya belum pasti.

Namun, semua itu sudah tidak ada gunanya lagi. Sekarang, anak malang itu tetap harus berusaha keras untuk menyelesaikan studinya di kampus biru itu. Berjuang demi orangtua, almamater SMA, dan untuk dirinya sendiri. “Aku tak akan pernah nyerah!” katanya dengan penuh keyakinan. Dia sadar semua luka yang dia dapat hari ini akan membantunya di hari esok. “Sakit yang tidak membunuhmu hanya akan menjadikanmu lebih kuat.” (anonym). Pepatah tua dan kuno yang harus benar-benar diamini olehnya.

Dan kini, biar waktu yang menjawabnya. Apakah dia akan berhasil atau tidak. Hanya tuhan, dan mungkin elvis, yang tahu.

Jogjakarta, 25 october 2008

Muh. Agfian M. A.

08/267689/SP/23027

Komunikasi

Fisipol

Angkatan 2008

Kutulis untuk memenuhi tugas mid semester kuliahku…

Tinggalkan komentar

Filed under pendidikan, tugas

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s