Ke mana perginya jiwa petualang itu

Huff, rasanya sudah lama banget aku gag ngisi blog. (padahal ini pertama kalinya aku nulis di word press). Dan bahkan, aku merasa sudah gag ada kemampuan untuk menulis. Ditambah lagi, aku merasa saat ini ideku sedang “bleng”. Namun, aku masih teringat kata-kata dari mas Nununk, dosen mata kuliah daspen di kampusku, UGM. Bahwa, menurut beliau, sebenarnya jika kita mengatakan bahwa ide kita sedang tidak ada, itu hanya alasan yang kita buat untuk diri kita sendiri karena kita memang malas untuk menulis. Karena itu, menurut beliau lagi, kita harus melawannya dan memaksakan diri untuk menulis, agar kita jadi terbiasa dan menyukai menulis. Okey deh bos! Siap!
Makanya, sekarang saya mencoba memaksakan diri saya yang malas banget ini untuk mau menulis. Yah… menulis kecil-kecilanlah. Sama sekali tidak ada target untuk dibaca orang dan kemudian orang itu memuji tulisan saya. Saya hanya menulis untuk kesenangan.
Heehh… capeknya dari tadi cuma ngomong gag jelas dan tidak menyinggung judul sama sekali. Padahal kata mas Nununk lagi, yang seperti itu bisa-bisa nanti menyiksa pembaca.
Ok dech, sekarang kita memasuki inti pembicaraan. Nah… yang ini serius, jadi mulai sekarang harus dibaca baik-baik. Hehe…
Sebelumnya saya ingin menceritakan kenapa saya memilih kata-kata jiwa petualang. Begini ceritanya, saya dulu sebelum kuliah, atau lebih tepatnya saat SMA, adalah orang yang suka pergi-pergi, jalan-jalan, atau travelinglah kerennya. Saya selalu merasa ingin pergi kemanapun yang saya bisa. Apalagi setelah saya mempunyai SIM, waahh… tidak ada orang yang dapat menghentikan saya. Saya berkelana, dari satu kota ke kota lainnya. Dan itupun hanya mengandalkan petunjuk dari papan penunjuk jalan yang berwarna hijau, tau kan? Karena itulah saya bisa mengatakan bahwa saya itu dulunya mempunyai jiwa petualang.
Dan sekarang, saya seperti telah meraih cita-cita terbesar saya. Yaitu tinggal di kos-kosan. Itu adalah mimpi yang jadi kenyataan. Dan saya pun tidak dapat tidak, merasa sangat senang sekali. Karena dengan ngekos, saya dapat maen ke manapun yang saya mau tanpa takut membuat khawatir orangtua. Saya dapat belajar bagaimana sulitnya mengurus semua kehidupan sendirian.
Dan sebenarnya alasan saya ngekos pun juga luar biasa bagi saya. Yaitu saya kuliah di UGM!! Bagi saya itu adalah sebuah mimpi yang lainnya lagi. Saya, yang notabene adalah anak Solo yang tidak begitu pandai, dan selalu kesulitan untuk masuk sekolah negeri favorit, bahkan saya tidak pernah diterima. Dan sekarang, tiba-tiba saya bisa berada di UGM, kampus biru yang bisa dibilang levelnya setara dengan UI dan ITB, dan termasuk salah satu kampus unggulan di Indonesia. Saya dan keluarga saya tentunya mempunyai ekspektasi yang besar terhadap masa depan saya di kampus itu.
Namun, saat menginjakkan kaki pertama kali di fakultas ISIPOL, tempat saya menuntut ilmu, saya bisa dibilang sedikit shock. Bagaimana tidak, gedung di situ sangat buruk, dikatakan bahwa gedung FISIPOL adalah yang terburuk kedua di UGM, setelah Filsafat. OUGH SHIT! Batin saya.
Hari-hari berikutnya pun tidak lebih baik. Saya yang mempunyai harapan tinggi dengan kehidupan saya di Jogja pun merasa semakin terpuruk. Apalagi dengan hilangnya dompet saya yang berisi identitas saya. Bayangkan, saya berada di Jogja tanpa adanya tanda pengenal satupun! Untungnya sampai saat ini hal itu tidak menyusahkan saya. Dan semoga selamanya akan baik-baik saja.
Lalu, kemudian munculah hal yang paling saya tidak sangka, dan menjadi mimpi terburuk saya. I feel homesick!! Bisa bayangkan itu? Saya yang selama ini merasa mempunyai jiwa petualang tinggi dan sok-sok’an merasa bisa hidup tanpa orang tua kini tiba-tiba merasa kangen dengan semua kehidupan di rumah, di Solo, dan bersama semua teman di SMA. I still can’t believe that!
Hal itu tidak berubah setelah sebulan saya berada di sana. Setiap hari yang saya tunggu hanyalah saat-saat akhir pekan agar saya bisa pulang ke Solo. Setiap waktu saya di Jogja tidak saya nikmati. Yang ada hanyalah Solo, Solo, dan Solo!
Apalagi sekarang sudah memasuki bulan puasa. Sering terbayang di benak saya saat-saat saya menghabiskan malam bersama teman-teman sekampung. Jalan-jalan di waktu subuh menuju dhuha dengan mereka. Juga saat-saat pengajian menjelang buka puasa. AHHH…. I FEEL WEAK!!
Saya pun mulai bertanya pada diri saya, benarkah saya adalah orang dengan jiwa petualang yang kuat? Atau jangan-jangan saya hanya seorang anak mami yang tak bisa bertahan hidup di lingkungan yang baru. Banyak yang bilang hal itu akan berubah dengan sendirinya memasuki bulan-bulan berikutnya. Mereka bilang saya hanya belum terbiasa dengan semua ini. Jadi, menurut mereka, saya bukanlah seorang anak mami seperti yang saya kira. Saya hanya sedang beradaptasi. God, I hope what they say to me are right.
Jadi, beginilah saya, sedang berusaha untuk memasuki kehidupan baru. Mencoba merajut masa depan yang lebih baik. Menjadi orang yang berguna bagi dunia dan sekitarnya. Saya harap kelak saya akan kerasan di Jogja, amin.

Kutulis di computer rumahku dengan ditemani lagu-lagu SID dan Endank Soekamti. Lagu-lagu mereka membuat aku merasa lebih tegar menghadapi masalah hidup ini.

Sept ‘08
Cheers!!
By Ian bood
Punk rock Outsider Solo

1 Komentar

Filed under Uncategorized

One response to “Ke mana perginya jiwa petualang itu

  1. sekali waktu mampirlah ke forum ini sapa tau bisa jadi obat rindu terhadap keluarga……

    forza lazio….eh…..salah

    lazio merda numero duo

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s